Minggu, 18 April 2021

Mahasiswa Asal Yaman Heran Dengan Semangat Berpuasa Orang Indonesia

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Hend Al-Madani mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Unair asal Yaman. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Hend Al-Madani mahasiswa asal Yaman mengaku heran dengan semangat berpuasa orang Indonesia. Ia kaget melihat aktivitas masyarakat ketika bulan Ramadhan yang baginya berjalan normal dan tak berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

“Di Fakultas saya sendiri, perkuliahan mulai sekitar pukul 08.00, sama seperti hari biasa. Tapi di negara saya berbeda. Di bulan Ramadhan kegiatan biasa dimulai pukul 10.00. Durasinya berbeda,” ujar mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Unair ini.

Ia sudah menetap di Surabaya sejak Oktober 2018. Ramadhan tahun ini adalah bulan puasa pertamanya. Ia mengenang kebiasaan berpuasa orang-orang di Yaman. Ia bercerita, biasanya mereka tidak tidur pada malam hari hingga waktu subuh tiba. Selepas menjalankan ibadah salat Subuh, baru mereka tidur.

“Jadi kamu bisa lihat jalanan yang biasanya ramai itu sepi pada pagi hari (Di Yaman, red). Tapi Indonesia, semuanya terlihat sama saja tidak ada perbedaan antara Ramadhan dan hari biasa,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalamannya, ia melihat orang Indonesia tetap tidur dengan waktu normal dan bangun pada waktu Sahur, dan pada pagi hari, mereka sudah melakukan aktivitas seperti biasanya. Pada siang hari, jalanan juga masih terlihat ramai.

Ia mengaku tertarik untuk mempelajari cara berpuasa orang Indonesia. Meski terkadang merasa berat karena hidup sendiri di negeri orang, namun ia tetap bersemangat dan mencoba melakukan hal yang sama seperti kebiasaan berpuasa di Indonesia.

“Saya ingin belajar dari mereka dan meningkatkan daya tahan saya. Itu kenapa saya melakukan hal yang sama seperti mereka. Saya ingin benar-benar belajar ke orang Indonesia. Saya rasa ini pengalaman yang sangat luar biasa,” ujar Hend.

Selain semangat orang Indonesia dalam berpuasa, ia juga mengaku tertarik dengan keberadaan masjid yang sangat banyak dan dekat dari tempat tinggalnya. Di Yaman, ia hanya salat berjamaah di Masjid pada saat Tarawih. Tapi di Surabaya, ia mengaku bisa salat 5 waktu berjamaah di Masjid.

“Jadi kamu bisa tinggal pakai mukenah dan berangkat. Jadi saya akhirnya biasa juga salat Magrib dan Subuh di masjid, jadi ini sangat spesial bagiku di Indonesia,” pungkasnya. (bas/tin/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Asap Kebakaran Semolowaru

Kecelakaan di Lawang

Truk Bermasalah di Trosobo

Eh Eh, Capek. Istirahat Dulu

Surabaya
Minggu, 18 April 2021
33o
Kurs