Selasa, 24 November 2020

Mahasiswa Baru ITS Berprestasi di Malaysia

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Tim mahasiswi ITS yang berprestasi di Malaysia. Foto: Humas ITS Surabaya

Mahasiswa baru ITS Surabaya berhasil meraih medali emas di ajang Kompetisi Penemu Muda atau Young Inventors Challenge (YIC) 2019 gelaran Malaysian Global Innovation & Creativity Center (MAGIC) di Cyberjaya, Malaysia.

Suprihatin, mahasiswa Departemen Teknik Rekayasa Kimia Industri angkatan 2019, saat melakukan penelitian bekerjasama dengan Siti Nur Kholisah mahasiswa dari Universitas Airlangga.

Keduanya berhasil menemukan foam yang berasal dari Eceng Gondok dan Tepung Singkong yang dirancang sebagai thermal insulator atau penahan panas dalam ruangan.

Atin sapaan Suprihatin menamai styrofoam temuannya dengan Biofoam EngKong (Biodegrable Foam dari Eceng Gondok dan Tepung Singkong). Temuan tersebut sesuai dengan tema yang diusung pada YIC kali ini, yaitu Sustainable Development Goals 12 (SDGs-12).

“Karena SDGs bertujuan untuk memastikan pola konsumsi dan produksi yang mewajibkan bertanggungjawab terhadap lingkungan, sosial dan budaya,” terang Atin.

Penemuan tersebut bermula dari sebuah ide untuk menciptakan styrofoam yang ramah lingkungan. Karena tumpukan sampah styrofoam itu membutuhkan waktu lebih dari seribu tahun untuk terurai. Kemudian Atin melakukan observasi dan menemukan alasan styrofoam yang ramah lingkungan itu tercipta karena adanya serat dan perekat.

Atin mengatakan bahwa salah satu tumbuhan yang memiliki serat selulosa yang cocok yaitu Eceng Gondok. Kemudian, Atin juga memutuskan untuk memilih Tepung Singkong sebagai perekatnya.

“Karena tepung singkong memiliki daya rekat yang tinggi dan merupakan bahan makanan sehingga aman untuk digunakan,” tambah Atin.

Ajang YIC 2019 ini diikuti oleh 446 pendaftar yang berasal dari 10 negara di Asia. Atin menjadi delegasi Indonesia pada YIC 2019 ini, karena sebelumnya terpilih melalui seleksi nasional pada ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dan Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) tahun 2018.

Saat pertama kali lomba OPSI 2018, Atin menerapkan penelitiannya sebagai food packaging. Karena berhasil memperoleh medali emas di OPSI 2018, Atin bersama temannya diberangkatkan untuk mengikuti lomba internasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yaitu Intel ISEF di Amerika.

“Karena ada kendala akhirnya kami tidak jadi diberangkatkan ke Amerika, namun dialihkan ke YIC Malaysia ini,” papar Atin.

Mahasiswa asal Lamongan itu menjelaskan mengenai penelitiannya ketika akan dilombakan di tingkat internasional itu dialih fungsikan sebagai thermal insulator bukan lagi food packaging. “Hal ini disebabkan oleh beberapa pertimbangan pembimbing, seperti karena tingkat keamanan thermal insulator lebih aman daripada food packaging,” ujar Atin.

Menurut Atin, ia merasa tidak terlalu kesulitan dari segi teknis penelitian. Namun dari segi manajemen diri, Atin merasa belum ahli membagi waktu antara meneliti dan melaksanakan tugas kuliah.

Apalagi dengan partner yang berbeda kampus, menyebabkan ia jarang berdiskusi secara langsung. “Akhirnya kami berdiskusi secara online dan bisa berlangsung lancar,” ujar Atin.

Atin berharap, ke depannya bisa mengembangkan produk penelitiannya sebagai electronic packaging. Karena menurut pendapatnya, produk mereka dapat digunakan sebagai electronic packaging. “Nantinya, akan dilakukan pengujian lebih lebih lanjut lagi sesuai fungsi electronic packaging,” pungkas Atin.(tok/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pohon Tumbang Menutup Jalan Utama Bangkalan Kota

Truk Tabrak Tiang Listrik di Pandaan

Serikat Pekerja Blokir Basuki Rahmat Surabaya

Serikat Pekerja Demo di Surabaya

Surabaya
Selasa, 24 November 2020
29o
Kurs