Minggu, 3 Juli 2022

Menyikapi Derasnya Teknologi dalam FloaThink in Harmony

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Ungkapan menangkal derasnya kemajuan teknologi dan informasi para akademisi Universitas Ciputra dalam FloaThink in Harmony. Foto: Totok suarasurabaya.net

Maraknya arus informasi yang berdampak pada kemudahan hampir setiap sisi kehidupan masyarakat, menginspirasi akademisi Universitas Ciputra berkreasi, dalam FloaThink in Harmony.

Tema FloaThink in Harmony adalah gambaran bagaimana masyarakat mengejar, terbang dan melayang dalam mengikuti laju perkembangan teknologi, namun di sisi lain timbul harapan agar tetap menapak dan berakar pada prinsip juga norma yang sejak lama sudah diyakini.

Terjemahan harmonisasi para pencinta seni ini kemudian divisualisasikan ke dalam 30 karya dua maupun tiga dimensi.

Lukisan berjudul: In the Dark karya Valentina Weyland, berkisah tentang budaya, suasana dan obyek lalu digoreskan dalam bentuk dan warna sesuai dengan perasaan yang timbul dari pengaruh konten visual jagat maya yang bertebaran.

Ada juga Henry Trisula, yang pada karyanya menyampaikan ketertarikan terhadap pelestarian budaya ditengah-tengah kemajuan teknologi saat ini dan dituangkan dalam media digital on canvas berjudul Menuju Masa Depan, Melestarikan Masa Lalu.

Seniman sekaligus pematung Jenny Lee, menampilkan karyanya yang berkisah tentang gambaran baik buruknya pikiran dan suasana hati yang kemudian disatukan menjadi semangat dalam hidup melalui karya tiga dimensinya berjudul Spirit in My Cups.

Sementara itu Devlin Putra Chandra memilih bercerita tentang hari-harinya melalui kolase aneka gambar dan karakter warna-warni yang diberi judul sesuai dengan suasana hati serta pengalaman kejadian disekitarnya. Misalnya pada karya berjudul: Bad Luck in Sunny day tentang cuaca dingin karena angin dan keluarga yang sedang berpiknik.

Bagi para akademisi Universitas Ciputra, konten dalam media sosial dan internet harus disikapi dengan bijaksana. Terutama dalam menghadapi perubahan dan derasnya pengaruh budaya luar agar identitas bangsa tetap dapat terjaga.

“Mudahnya informasi dari berbagai penjuru dunia, serta kultur dan budaya luar yang ikut masuk pada kemudahan itu mengakibatkan kita mulai melupakan budayanya sendiri. Kita harus mengikuti perkembangan jaman agar bisa bersaing dengan masyarakat internasional, namun tetap harus mejaga identitas diri kita sebagai orang Indonesia yang memiliki budaya dan kearifan lokal yang beraneka ragam,” pungkas Henry Trisula.

FloaThink in Harmony dijadwalkan digelar di Galeri pavilliun House of Sampoerna mulai Kamis (14/3/2019) hingga Sabtu (6/4/2019).(tok/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 3 Juli 2022
26o
Kurs