Minggu, 22 Mei 2022

Ahli Bahasa: Sah Saja Mengganti Radikalisme Jadi Manipulator Agama

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Sriyanto, ahli bahasa di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud memberikan penjelasan dalam acara Forum Diskusi Media Massa di Jakarta, Kamis (24/10/2019). Foto: Antara

Sriyanto, ahli bahasa di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan sah-sah saja jika Joko Widodo Presiden ingin mengganti kata ‘radikalisme’ menjadi ‘manipulator agama’ yang maknanya lebih mengerucut dan lebih jelas.

“Jadi kalau ‘manipulator agama’ mungkin itu kriterianya lebih mengerucut, lebih jelas daripada pengertian radikalisme menurut yang beredar di masyarakat saat ini,” katanya seperti dilansir Antara, Jumat (1/11/2019).

Ia mengatakan bahwa pengertian radikal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga pengertian. Dalam pengertian pertama radikal berarti amat mendasar, prinsip-prinsip tentang politik, termasuk juga agama.

“Itu kan sebenarnya positif. Kalau orang beragama mempelajari agamanya sampai pada hal-hal yang prinsip kan itu positif,” katanya.

Kemudian, makna kedua kata radikal dalam kamus adalah amat keras, menginginkan adanya perubahan dalam undang-undang pemerintahan.

Pengertian kata itu, katanya, memang bermakna negatif. “Nah, itu yang negatif,” ujarnya.

Selanjutnya makna ketiga dari kata radikal adalah berpikir maju. “Itu positif, kecuali (pengertian) yang nomor dua,” katanya lebih lanjut.

Sementara itu, ia mengatakan kata ‘radikalisme’ memang bermakna negatif menurut kamus, yaitu keinginan untuk mengubah undang-undang pemerintah secara kekerasan.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa kata radikalisme yang berkembang di dalam masyarakat cenderung ditujukan pada agama tertentu.

“Makna negatif radikalisme itu mestinya bukan hanya ditujukan pada agama tertentu. Bahkan orang yang tidak ada kaitannya dengan agamapun kalau ingin mengubah pemerintahan atau undang-undang dengan kekerasan itu radikal, radikalisme,” katanya.

Namun, pengertian yang berkembang di media massa ‘radikalisme’, katanya, dimaknai secara bias dan sering tidak tepat.

​​​​”Sebenarnya kalau masyarakat dan media berpegang pada makna yang ada di kamus dengan tidak memberikan stempel radikalisme pada agama tertentu, lalu dengan makna yang seperti itu (yang sesuai KBBI), yaitu mengubah undang-undang atau pemerintahan dengan kekerasan, itu sebenarnya sudah tepat,” katanya.

Namun, selama ini ia melihat pemberitaan media massa atau di media sosial (medsos) cenderung memaknai radikalisme dengan makna yang bias sehingga terkesan merujuk pada agama tertentu.

Oleh karena itu, ia mengatakan tampaknya Presiden menangkap kesan tersebut sehingga berupaya untuk mencari istilah lain.

“Kalau dari sisi itu positif saja. Jadi kalau manipulator agama mungkin itu kriterianya lebih mengerucut, lebih jelas,” katanya.

Namun, seandainya kata ‘radikalisme’ tidak diubah dengan tetap merujukkan maknanya sesuai KBBI, pertimbangan tersebut juga sama-sama tepat.

“Namun, sekali lagi, Presiden mungkin menangkap adanya pengertian radikal yang di media sekarang ini lebih banyak (mengarah ke) agama tertentu, malah ada misalnya kalau tidak sesuai aliran laku dicap radikal, itu kan jadi bias maknanya.”

“Presiden tampaknya menangkap perkembangan makna radikalisme yang sangat luas atau dapat menimbulkan keresahan masyarakat tertentu yang tidak mengenakkan, lalu dicari istilah lain. Menurut saya sah-sah saja,” katanya.(ant/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 22 Mei 2022
28o
Kurs