Senin, 30 November 2020

70 Tahun IDI, Pandemi Jadi Titik Balik Masyarakat Berobat di Dalam Negeri

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Dr. Brahmana Askandar Ketua Bidang Organisasi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) di Kantor IDI Surabaya, Jumat (21/6/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Hari ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tepat berusia 70 tahun. Dr. Dr. Brahmana Askandar, Spog  Ketua IDI Surabaya mengatakan masih banyak tantangan dan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan IDI.

Salah satunya adalah terkait kepercayaan masyarakat untuk mau melakukan pengobatan di Indonesia. Diakui oleh dokter Brahmana, situasi pandemi ini menjadi titik balik masyarakat mau untuk mempercayakan pengobatan di fasilitas kesehatan dalam negeri. Situasi pandemi dalam beberapa bulan terakhir membuat masyarakat membatasi aktivitasnya, terutama untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Ini menjadi tantangan sekaligus sentilan IDI untuk meng-upgrade diri. Tapi sejak pandemi banyak yang berobat di Indonesia. Ini titik balik untuk menunjukan profesionalisme kita. Sehingga orang tidak perlu lagi (berobat) ke luar negeri kecuali kasus khusus yang mungkin memerlukan hi-tech. Kalau kasus ditangani di dalam negeri, semoga setelah ini mereka yang berobat di luar negeri dalam 6-7 bulan ini bisa berobat di Indonesia,” ucapnya saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Sabtu (24/10/2020).

Dokter Brahmana bilang, secara skill, dokter di Indonesia punya skill yang tak kalah mumpuni dengan dokter di luar negeri. Bahkan, dalam beberapa kasus penyakit, dokter Indonesia lebih ahli.

“Kalau skill individu kita, sama dengan di luar negeri. Bahkan untuk banyak kasus yang banyak terjadi di Indonesia, experience kita jauh lebih tinggi daripada dokter di luar negeri, khususnya penyakit tropis, kemudian prosedur-prosedur operasi yang banyak di Indonesia, dokter kita jauh lebih ahli,” katanya.

Ditambahkan oleh dia, PR yang menanti bidang medis di Indonesia adalah memperbaiki sistem secara keseluruhan dan  kemudahan layanan. Ia mengambil contoh fasilitas radiasi untuk pasien kanker. Sebagaimana diketahui, alat radiasi di Indonesia tak banyak, sedangkan pasien yang ditangani tidak sebanding dengan ketersediaan alat.

“Mungkin ini yang bikin beberapa orang ke luar negeri untuk melakukan radiasi. Di beberapa kota besar di Indonesia antrian untuk radiasi bisa 3-6 bulan. Ini yang harus diperbaiki oleh sistem, tidak bisa dengan IDI saja tapi kita harus bekerja sama dengan pemerintah dan stakeholder yang lain,” imbuhnya.

Selain itu perkembangan teknologi jadi tantangan utama yang dihadapi oleh IDI untuk selalu meng-upgrade diri dengan teknologi terkini.

“Perkembangan teknologi kedokteran, teknologi komunikasi, telemedis, universal coverage, semua memerlukan pembahasan dan selalu update ilmu untuk menjaga profesionalisme. Kemudian untuk standar pengobatan dan ethics juga mengalami perkembangan luar biasa,” katanya. (dfn/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Surabaya
Senin, 30 November 2020
26o
Kurs