Kamis, 22 April 2021

Persiapan Pembangunan Fisik Kawasan Bromo-Tengger-Semeru pada 2021

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur saat bertemu tokoh adat masyarakat Tengger dan sejumlah komunitas masyarakat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sabtu (15/2/2020). Foto: Humas Pemprov Jatim

Persiapan pembangunan fisik kawasan wisata Bromo-Tengger-Semeru (BTS) baru akan dilakukan pada 2021 mendatang. Tahun ini berbagai pihak akan mempercepat perencanaan detail pembangunan.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur menyatakan itu saat bertemu tokoh adat masyarakat Tengger dan sejumlah komunitas masyarakat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Rombongan Khofifah naik kuda ke kawasan Pasir Berbisik Bromo untuk menemui sejumlah komunitas penyedia jeep, penyedia kuda, dan sahabat gunung TNBTS, Sabtu (15/2/2020).

Gubernur harus naik kuda karena hari ini bertepatan dengan peringatan Wulan Kepitu yang mana warga dan wisatawan dilarang masuk ke kawasan Bromo dengan kendaraan bermotor.

“Ini suasana yang harmoni sekali. Jadi pengingat bersama bahwa alam harus diberi ruang recovery. Motor dan asap tidak boleh masuk area ini, jadi kita bisa menikmati kabut dan udara asli Bromo,” kata Khofifah.

Dalam suasana seperti itu Khofifah menemui para tokoh ada dan komunitas BTS untuk menyerap aspirasi berkaitan rencana pengembangan kawasan BTS sebagaimana dalam Perpres 80/2019.

Salah satu ikon yang akan dibangun di kawasan wisata BTS adalah pembangunan kereta gantung. Khofifah mendengar aspirasi masyarakat tentang titik pengembangan sesuai daya dukung alam.

Supoyo Petinggi Adat Tengger menyampaikan sejumlah rekomendasi berkaitan pembangunan kawasan wisata BTS. Intinya, masyarakat Tengger ingin jadi pelaku dan bukan hanya penonton.

“Kami mengusulkan agar dibuat track khusus di lereng gunung untuk jeep dan motor. Jadi tidak masuk ke tengah pasir. Pasir berbisik hanya untuk kuda. Ini untuk mengembalikan landscape pasir,” ujarnya.

Sementara untuk kereta gantung, masyarakat Tengger mengusulkan supaya rute transportasi wisata itu bisa dimulai dari puncak B-29 menuju puncak B-30, lalu dilanjutkan ke Kawasan Bromo.

“Kami juga berharap agar Pemprov Jatim mengembangkan SMK Pariwisata yang ada di Sukapura,” ujar Supoyo mewakili suara masyarakat adat Tengger sebagai warga asli di kawasan TNBTS.

Khofifah mengatakan, seperti yang termuat dalam Perpres 80/2019 tentang percepatan pembangunan Jawa Timur, kawasan Bromo Tengger Semeru jadi salah satu kawasan prioritas pembangunan wisata di Jatim.

Menurutnya, wisata BTS digadang-gadang akan menjadi salah satu wisata “Bali Baru” di Indonesia. Dia ingin, dalam seluruh tahapan pengembangan wisata ini masyarakat turut terlibat.

“Untuk mendapatkan yang terbaik bagi masyarakat Tengger. Supaya budayanya terjaga, alamnya terlindungi, dan masyarakat adat jadi pemilik seputaran Bromo,” kata Khofifah.

Dia juga menjelaskan, Pemprov Jatim mengusulkan adanya sistem obligasi daerah dalam pembangunan kawasan BTS yang melibatkan investor. Usulan ini sudah disampaikan ke kementerian terkait.

“Jika ada proses pembangunan yang menarik investor kami menawarkan skema obligasi daerah. Kami ingin 4 daerah yang ada di seputaran BTS menjadi pemilik dari kawasan BTS,” ujarnya.

Perlu diketahui, ada empat kabupaten yang menopang keberadaan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Empat daerah itu antara lain Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang.(den/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Asap Kebakaran Semolowaru

Kecelakaan di Lawang

Truk Bermasalah di Trosobo

Eh Eh, Capek. Istirahat Dulu

Surabaya
Kamis, 22 April 2021
29o
Kurs