Rabu, 19 Januari 2022

Bio Farma: Transfer Teknologi dan Dukung Kemandirian Agar Vaksin Eksis

Laporan oleh Anggi Widya Permani
Bagikan
Botol kecil berlabel "Vaksin" di dekat jarum suntik medis di depan tulisan "Coronavirus COVID-19" yang ditampilkan dalam ilustrasi ini yang diambil pada (10/4/2020). Foto: Reuters/Antara

PT Bio Farma melakukan transfer teknologi dan mendukung kemandirian bangsa dalam memproduksi vaksin Covid-19, sebagai strategi dalam penyediaan vaksin Covid-19 bagi masyarakat Indonesia.

“Kita punya strategi jangka pendek di mana kita melakukan transfer teknologi proses hilir dan untuk capacity building (pembangunan kapasitas) dari calon mitra kita, kita kerjasama dengan Sinovac China, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI),” kata Neni Nurainy dari Divisi Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma dalam dalam seminar virtual Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Harapan, Jakarta, dilansir Antara, Rabu (14/10/2020).

Sementara untuk strategi jangka menengah dan jangka panjang, maka harus ada pengembangan vaksin dari proses hulu.

Itu diperlukan untuk kesiapan Indonesia dan kemandirian pengembangan sumber daya dalam mengembangkan vaksin Merah Putih.

Pengembangan vaksin dari proses hulu itu didukung dengan dibentuknya konsorsium vaksin Covid-19 nasional.

Sementara itu, Amin Soebandrio Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan perlu vaksinasi, paling tidak untuk 173 juta penduduk Indonesia untuk menciptakan kekebalan populasi (herd immunity).

Apalagi jika diperlukan dua kali suntikan vaksin, maka kebutuhan vaksin akan menjadi sekitar 346 juta ampul vaksin. Itu merupakan jumlah yang banyak.

Kebutuhan vaksin tersebut tidak mungkin bisa terpenuhi dari luar, sehingga perlu pengembangan vaksin secara mandiri.

Eijkman mengembangkan, vaksin dengan platform sub unit protein rekombinan. Antibodi yang dihasilkan setelah vaksinasi akan bekerja untuk mencegah terjadinya penempelan virus pada sel manusia, dan pelepasan materi genetik virus ke dalam sel manusia.

“Kita melihat kapasitas produksi vaksin baik dunia maupun di Indonesia seberapa besar karena kapasitas produksi di dunia pun hanya kurang lebih separuh dari jumlah penduduk dunia hanya sekitar tiga miliar vaksin untuk tujuh miliar penduduk. Nah, tentunya melihat situasi seperti ini Indonesia tidak bisa tergantung pada luar negeri,” ujarnya. (ant/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Rabu, 19 Januari 2022
25o
Kurs