Minggu, 22 Mei 2022

Dicari, RS dan Hotel yang Mau Menampung Karyawan Sampoerna

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Joni Wahyuhadi Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim diskusi dengan Khofifah Gubernur Jatim di Grahadi, Senin (4/5/2020). Foto: Humas Pemprov Jatim

Masih ada 46 orang karyawan PT HM Sampoerna yang diisolasi di salah satu hotel di Surabaya yang disediakan perusahaan rokok itu. Masalahnya, manajemen hotel sudah tidak lagi bersedia mereka menginap di sana.

Maka, Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Jatim bersama manajemen PT HM Sampoerna Tbk, pengelola Pabrik Rungkut 2, Surabaya, harus cepat-cepat mencari hotel atau rumah sakit yang bersedia menampung 46 karyawan itu.

Keberatan manajemen hotel soal keberadaan karyawan Sampoerna di tempat mereka bukan tanpa alasan. Karena dari seluruh karyawan yang diisolasi di hotel mereka, ada 18 orang yang positif Covid-19 berdasarkan tes PCR di RSUD dr Soetomo.

“Iya (masih ada yang positif di hotel) makanya diupayakan diisolasi di tempat lain. Diisolasi di rumah sakit. Dia (manajemen PT HM Sampoerna) akan berupaya cari rumah sakit lagi, cari hotel lagi,” kata dr Joni Wahyuhadi Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim, Senin (4/5/2020).

Selain karyawan terjangkit Covid-19, manajemen hotel tempat mereka diisolasi saat ini juga keberatan bila 28 karyawan lain yang hasilnya negatif Covid-19 tetap tinggal di sana. Pihak hotel meminta semua karyawan Sampoerna itu dipindah.

“Untuk (karyawan) yang negatif, nanti kami evaluasi satu-dua hari ini. Mungkin bisa pulang dengan isolasi di rumah. Akan kami swab ulang. Nah, yang positif dicarikan rumah sakit atau hotel lain yang mau. Karena mereka ini enggak ada gejala. Mereka, lho, bingung (saat) dimasukkan ke rumah sakit,” kata Joni.

Meski tidak mengakui bahwa ada kesulitan mencari rumah sakit atau hotel yang bersedia menampung para karyawan Sampoerna, Joni memastikan bahwa mereka yang negatif Covid-19 tidak akan sampai berada di luar atau di jalanan.

“Jadi gini. Kan, ada yang (gejala) ringan, sedang, dan berat. Yang berat masuk ke rumah sakit rujukan utama. Nah, yang ringan atau sedang itu (nanti bisa dirawat) di rumah sakit Kemenkes (RS Darurat di Jalan Indrapura). Sesuai aturan Kemenkes, mereka yang bergejala ringan bisa dirawat di (ruangan) normal pressure,” ujarnya.

Joni mengklarifikasi lagi pernyataannya tentang kelebihan kapasitas di rumah sakit di tiga wilayah PSBB, kemarin. Bahwa yang dia maksud over load adalah kapasitas ruangan dengan tekanan negatif (negative pressure) di rumah sakit rujukan.

“Yang kami hitung kurang itu yang (ruangan) tekanan negatif saja. Jadi bukan berarti sisanya (terjangkit Covid-19 dengan gejala ringan/sedang) di luar, di jalan. Enggak! (Bisa) di rumah sakit tapi ruangan normal pressure. Ini masih dicarikan rumah sakit untuk mereka,” ujarnya.

Menurut Joni, tidak ada target atau deadline dari manajemen hotel, kapan Gugus Tugas Covid-19 dan PT Sampoerna harus memindahkan seluruh karyawan. Menurutnya, manajemen hotel pasti mengerti bahwa ini kesulitan bersama.

“Tidak ada deadline. Ya, sama-sama cari, lah. Sesegera mungkin. Hotel, kan, juga tahu sama tahu, ini kesulitan bersama. Mosok di-deadline ngono (masak di-deadline begitu). Yo, enggak lah (ya, tidak lah),” katanya.

Perlu diketahui, di hotel itu tadinya ada 91 karyawan Sampoerna (sebelumnya dikabarkan 100 karyawan) yang diisolasi karena hasil rapid test-nya reaktif (positif tes cepat). Setelah swab tes PCR, ada 63 orang yang dinyatakan terjangkit Covid-19.

Para karyawan yang diisolasi sementara di hotel itu adalah hasil screening rapid test yang dilakukan perusahaan Sampoerna secara mandiri. Ada 323 karyawan di Pabrik 2 Rungkut, Surabaya, yang menjalani rapid test di klinik perusahaan dan 91 orang dinyatakan reaktif (positif rapid test).

Gugus Tugas Covid-19 Jatim bersama PT Sampoerna sudah memindahkan 45 orang dari 91 karyawan Sampoerna dari hotel itu. Yang terjangkit Covid-19 dipindah ke sejumlah rumah sakit di Surabaya. Yang negatif Covid-19 dipersilakan pulang.

Beberapa di antara yang terjangkit, ada 12 orang yang saat ini sedang menjalani perawatan isolasi di Rumah Sakit Jiwa Menur. Dokter Joni tidak menyebutkan, di rumah sakit mana lagi mereka yang positif Covid-19 menjalani isolasi.

Masyarakat Menolak Karyawan Isolasi Mandiri di Kos-kosan

Masalah lain harus dihadapi karyawan PT Sampoerna yang sebenarnya sudah dinyatakan negatif Covid-19 setelah tes PCR. Kohar Hari Santoso Ketua Gugus Tracing Covid-19 Jatim mengakui, ada penolakan warga terhadap mereka.

“Sekarang bagian yang tidak reaktif tadi kami lakukan isolasi di rumah masing-masing atau di kos-kosannya. Memang ada kondisi di lapangan, kos-kosannya itu kecil, kemudian masyarakat kurang bisa menerima. Bisa terjadi itu. Kami sudah pantau itu,” ujarnya.

Kohar mengaku sudah membicarakan hal itu dengan pihak perusahaan PT HM Sampoerna. Untuk mereka yang non-reaktif akan tetap menjalani isolasi dan terus dipantau. Kohar juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

“Pihak Dinkes Kota juga sudah minta (perusahaan) untuk memantau selama 14 hari dan merencanakan pemeriksaan ulang dengan rapid test atau swab. Semestinya (setelah) tujuh hari diperiksa,” ujarnya.

Kohar juga memastikan, untuk memenuhi kebutuhan karyawannya yang menjalani isolasi mandiri, PT HM Sampoerna akan mengakomodasi kebutuhan mereka yang sudah biasa belanja ke pasar.

“Dari perusahaan sudah disiapkan bantuan sosialnya. Itu bahkan perusahaan sudah menyiapkan transportasi khusus (ke pasar). Kendaraan umum, angkutan kota lengkap dengan sopirnya. Yang biasanya kapasitas sepuluh orang diatur hanya diisi lima orang saja,” ujar Kohar.(den/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 22 Mei 2022
28o
Kurs