Senin, 3 Agustus 2020

Gugus Tugas: Jawa Timur Harus Serius Dijaga Karena Angka, Laju Penularan, dan Fatalitas Covid Tinggi

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Dewi Nur Aisyah anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dalam diskusi di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (15/7/2020). Foto: Faiz suarasurabaya.net

Dewi Nur Aisyah anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menjelaskan, kalau Jawa Timur mempunyai banyak kabupaten kota. Dilihat angka penderita Covid tertingginya ada di kota Surabaya dengan 7500 kasus.

Dari jumlah kasus ini, kata Dewi, Kabupaten Sidoarjo sekitar 2000 an kasus atau sepertiga dari Surabaya.

“Kita melihat di awal seperlima, sekarang sepertiga, berarti Sidoarjo ada penambahan cukup signifikan. Kabupaten Gresik yang ketiga setelah Surabaya dan Sidoarjo,” ujar Dewi dalam diskusi di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (15/7/2020).

Menurut Dewi, dari laju insidensi, Surabaya juga lebih cepat penularannya dibanding dengan Depok, Jawa Barat.

“Kemudian kalau dari laju insidensi kita lihat di kota Surabaya masih menempati peringkat pertama dengan 251 kasus per 100 ribu penduduk, ingat kota Depok berapa? 45 yang berarti kecepatan penularan di Surabaya lebih tinggi dari Depok, Jawa Barat,” tegasnya.

Angka kematian di Surabaya, menurut Dewi, juga lebih tinggi dibandingkan Depok.

“Angka kematian ini juga kita lihat, kalau kota Depok 1,78, ini kota Surabaya 22,06 kasus per 100 ribu penduduk. Sehingga Surabaya harus benar-benar dijaga karena angka tinggi, laju penularan tinggi dan fatalitasnya juga tinggi,” ujar Dewi.

Dia mengatakan, Analisa data kasus di Jawa Timur per 7 Juli 2020, total ada 141 klaster dengan total 2004 kasus.

Klasternya ada banyak dan berasal dari macam-macam. Dilihat dari jumlah kasus paling banyak adalah lokal transmisi, artinya adalah di sebuah kelompok masyarakat itu sekelompok orang dalam satu wilayah yang sama tiba-tiba positif. Mereka tidak ada riwayat bepergian.

Bisa jadi ada seseorang yang positif akhirnya menular di sekeling wilayah itu. Ini yang harus diwaspadai.

“Isolasi mandiri itu penting ketika sudah pernah ada kontak dengan orang yang positif sehingga dipastikan isolasi mandiri nya harus berjalan,” kata Dewi.

Dari 141 Klaster dan 2004 kasus itu masing-masing 31 klaster 199 kasus terjadi di pasar, 34 klaster 686 kasus adalah lokal transmisi, 1 klaster 126 kasus di Pesantren, 20 klaster 272 kasus di tempat kerja, 26 klaster 22 kasus di rumah sakit, 2 klaster 74 kasus di tempat ibadah, 1 klaster 4 kasus di mall dan 2 klaster 191 kasus di acara seminar.(faz/tin)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Meinara Iman Dwihartanto

Potret NetterSelengkapnya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Kerikil Berserakan, Lalu Lintas Macet

Fortuner Masuk Sungai Kaliwaron

Surabaya
Senin, 3 Agustus 2020
30o
Kurs