Minggu, 29 Mei 2022

Haedar Nashir: Gus Sholah Tokoh yang Diterima Banyak Kalangan

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Prof Haedar Nashir Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menghadiri prosesi pemakaman Salahuddin Wahid atau Gus Sholah pada Senin (3/2/2020) siang di masjid Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Foto: Abidin suarasurabaya.net

Prof Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah mengatakan, KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah merupakan tokoh yang sederhana. Gus Sholah juga menurutnya tokoh yang banyak bersilaturahmi, berjiwa washatiyah (seimbang), serta selalu mencari solusi untuk masalah umat dan bangsa Indonesia.

“Beliau juga merupakan tokoh yang diterima banyak kalangan,” ujar Haedar saat menghadiri upacara pemakaman Gus Sholah di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (3/2/2020).

Menurut Haedar, seluruh masyarakat Indonesia sungguh kehilangan Gus Sholah. Apalagi menurutnya, masih banyak jejak yang ingin beliau hadirkan untuk kebaikan umat dan bangsa. Kebaikan yang dilakukannya, salah satunya adalah saat gelaran Pilpres 2019, dimana Gus Sholeh menginginkan bangsa Indonesia tidak terpecah belah hanya karena urusan politik.

“Pada saat Pemilu 2019 beliau tidak ingin bangsa ini terbelah karena politik. Beliau mengajak saya bersilaturahmi dengan banyak tokoh. Beliau ingin bangsa ini dengan keragamannya tetap utuh,” kata Haedar.

Haedar menyebutkan, Gus Sholah juga merupakan sosok yang sangat demokratis, serta egaliter antara kata dan perbuatan. Secara pribadi, Haedar juga mengaku sangat kehilangan atas wafatnya Gus Sholah. Gus Sholah yang dikenalnya adalah orang yang sangat tulus dan ikhlas.

“Beliau sungguh-sungguh ingin umat dan bangsa ini termasuk generasi muda harus tetap memiliki ketulusan dalam merajut ukhuwah. Tentu saja kita berat ditinggal beliau. Tapi kita harus ikhlas melepas beliau dengan ketulusan,” ujar Haedar.

Haedar juga mengaku, saat Gus Sholah sakit juga masih memikirkan persatuan ummat. Seperti proyek film dua tokoh KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan yang digarap Muhammadiyah dan NU.

“Beliau juga ingin film jejak dua ulama KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan tuntas dan bisa diteladani semua umat. Beliau saat sakit juga masih mengajak saya menulis surat ke Presiden untuk menonton film ini,” katanya. (bid/iss/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 29 Mei 2022
27o
Kurs