Selasa, 16 Agustus 2022

IGD Baru RS Dr Soetomo untuk Penapisan Pasien Covid-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim bersama Joni Wahyuhadi Direktur Utama RS Dr Soetomo memeriksa ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) khusus penyakit menular di RS Dr Soetomo Surabaya, Minggu (6/12/2020). Foto: Denza suarasurabaya.net

Dr dr Anang Endaryanto Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Dr Soetomo mengatakan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang baru diresmikan Minggu (6/12/2020) berfungsi untuk penapisan (screening) pasien Covid-19.

“Jadi semua pasien akan masuk ke sini dulu, sesuai dengan pedoman kementerian kesehatan yang baru. Setiap penanganan harus ada screening. Baik pasien, pendamping pasien, karyawan, semua harus melewati itu,” ujarnya.

Penapisan ini, menurut Anang, sebelumnya sudah dilakukan sebagai standar operasional RS Dr Soetomo. Dilakukan di ruang triage (baca: triase) oleh sejumlah dokter yang menentukan kategori kegawatan pasien.

Dokter di ruang triage menentukan empat kategori pasien dengan warna. Merah, Kuning, Hijau, dan Hitam. Merah untuk pasien kritis yang perlu pertolongan segera di ruangan resusitasi, kuning butuh pertolongan segera tapi tidak kritis.

Sedangkan warna hijau untuk kategori pasien yang menjadi prioritas ketiga yang biasanya mengalami cedera ringan dan masih mampu berjalan sendiri. Sedangkan hitam untuk pasien yang sudah tidak mungkin tertolong.

Kalau sebelumnya ruang triage berada satu gedung dengan IGD, dengan adanya IGD Penapisan atau IGD khusus Penyakit Menular yang diresmikan Khofifah hari ini, ruang triage ada di gedung terpisah.

Di IGD baru ini, setiap pasien harus menjalani rangkaian pemeriksaan awal penentuan kegawatdaruratan itu, termasuk screening berkaitan dengan ada tidaknya virus SARS CoV-2 di dalam tubuhnya.

“Jadi dengan adanya ini, pasien yang positif (Covid-19) atau belum bisa dibuktikan negatif Covid-19 bisa dipisahkan dengan pasien lain. Supaya tidak membahayakan pasien non-Covid-19 di sekitarnya,” kata Anang.

Sebelumnya, kata Anang, di IGD lama RS Dr Soetomo, hanya tersedia 10 tempat tidur untuk melakukan screening awal pasien yang masuk. Kalau sudah lebih dari 10 pasien, IGD tidak menerima pasien baru.

Sementara, penentuan status pasien terkait Covid-19 dengan tes usap misalnya, paling cepat 4 jam. Menunggu selama itu akan membuat IGD lama mengalami penumpukan, apalagi sekarang sedang terjadi lonjakan kasus Covid-19.

Tidak hanya itu, di bangunan IGD lama RS Dr Soetomo, hanya sebagian kecil ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas tekanan negatif yang mampu menggambat penularan virus penyakit menular terhadap pasien lain.

IGD khusus penapisan atau khusus penyakit menular itu pun menjadi solusinya. Di gedung baru itu, semua pasien gawat darurat yang hasil tes Covid-19-nya belum keluar bisa segera ditangani di ruangan bertekanan negatif.

Ada sebanyak 65 tempat tidur ya tersedia di gedung IGD baru yang terdiri dari sejumlah ruangan itu. Ada ruang khusus resusitasi dengan 15 tempat tidur, juga ruangan khusus pasien melahirkan.

“Jadi di sini, pasien gawat darurat kalau memerlukan perawatan di ruang resusitasi bisa segera ditangani, dianggap sebagai pasien Covid-19 dulu. Baru kalau kegawatdaruratannya hilang dipindahkan ke ruangan. Kalau positif dipindahkan ke Ruang Isolasi Khusus,” katanya.

Keberadaan gedung IGD baru khusus penapisan atau khusus penyakit menular itu menurut Anang mampu mengurangi potensi penumpukan pasien di IGD seperti yang terjadi pada Juni 2020 lalu, ketika kasus Covid-19 melonjak tinggi. (den/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
30o
Kurs