Rabu, 8 Desember 2021

Jangan Berkonfrontasi, Seni Tradisi Wajib Beradaptasi di Pandemi Covid-19

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Pertunjukan Jaranan sebagai satu diantara seni tradisi yang harus beradaptasi dengan keadaan di era digital. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net

Covid-19 yang menjadi wabah dunia, jangan dijadikan alasan pelaku seni tradisi maupun seniman tradisional berkonfrontasi melawan keadaan. Justru di masa pandemi ini seni tradisi harus beradaptasi.

Prof. Dr. Djoko Saryono M.Pd., anggota tim Implementasi Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, Selasa (28/7/2020) menyampaikan itu menanggapi keberadaan seni dan pelaku seni tradisi maupun tradisional di masa pandemi Covid-19.

“Wabah atau pandemi semacam ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu di bumi ini. Di era kehidupan kita saat ini, Covid-19 melanda dunia dan melumpuhkan seluruh sendi kehidupan manusia termasuk kesenian. Tanpa kecuali, seni tradisi dan pelaku seni tradisonal juga menjadi korbannya,” terang Djoko Saryono.

Saat ini, adalah terjadinya disrupsi bencana yang menyebabkan hampir seluruh elemen kehidupan terdampak. Dan dijagad kesenian, lanjut Djoko saat ini tengah berlangsungnya penataan ulang, pengaturan ulang untuk melanjutkan kehidupan atau perjalanan kesenian itu sendiri.

“Dan tugas kita semua, para seniman, pelaku kesenian dan pemangku kesenian untuk menavigasi kesenian, mengarahkan pada tujuan yang benar, agar kesenian tetap ada dan tidak tergerus. Demikian juga dengan kesenian tradisional, harus sesegera mungkin menemukan panggungnya kembali di era digital ini,” tambah Djoko.

Panggung digital, lanjut Djoko adalah satu diantara pilihan bagi seniman di masa pandemi ini dan bisa jadi di masa nanti setelah pandemi berakhir sebagai satu diantara sarana sebagai pengganti panggung yang selama ini digunakan untuk menampilkan karya-karya berkesenian.

“Ada pepatah Jawa demikian: Ngeli ning Ora Keli. Yang maknanya adalah mengikuti keadaan tetapi tidak larut pada keadaan. Ini penting dipahami sebagai satu di antara bentuk adaptasi berkesenian termasuk seni tradisi yang ada. Panggung digital bisa jadi pilihan atau sarana menampilkan karya-karya,” papar Djoko.

Karena itu Djoko mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti sekarang dibutuhkan kecepatan, semangat, untuk segera berubah, segera beradaptasi bagi pelaku seni tradisi maupun seniman tradisional dengan era digital yang disadari atau tidak memang memberikan panggung baru untuk beragam penampilan.

“Seni tradisi tidak boleh mandek, manfaatkan virtual, digital untuk menggantikan berbagai hal yang tidak mungkin lagi dilakukan di tengah pandemi seperti sekarang ini. Karena itu jangan berkonfrontasi. Pilih beradaptasi. Termasuk seni Jaranan. Mulailah mengenali panggung digital, sebagai ganti panggung terbuka,” pungkas Djoko.

Bersama sejumlah nara sumber lainnya, Prof. Dr. Djoko Saryono M.Pd., menjadi keynote speaker pada diskusi daring dalam Parade Jaranan Virtual 2020 yang bertema: Perkembangan Seni Tradisi; Makna, Ritual, dan Virtual, Selasa (28/7/2020) yang disiarkan lewat Instagram Cak Durasim.(tok/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Rabu, 8 Desember 2021
30o
Kurs