Minggu, 24 Januari 2021

PII: Kolaborasi Bioengineer Dunia Dibutuhkan dalam Percepatan Pembuatan Vaksin

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
kata Heru Dewanto Presiden Association of Engineering Education Southeast and East Asia and the Pacific (AEESEAP). Foto: Antara

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengusulkan perlunya platform digital berupa big data insinyur sedunia sebagai sarana kolaborasi para insinyur menghadapi persoalan global.

Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, dibutuhkan kolaborasi para bioengineer dunia dalam percepatan pembuatan vaksin.

“Kini, yang dibutuhkan bukanlah kompetisi bioengineer antar negara, tetapi kerja sama dalam riset untuk secepat mungkin menghasilkan vaksin Covid-19,” kata Heru Dewanto Presiden Association of Engineering Education Southeast and East Asia and the Pacific (AEESEAP), dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2020).

Dalam workshop virtual bertajuk ‘Enhancing Engineering Value Chain’, Heru menjelaskan para ahli bioengineering bisa menjadikan platform kolaborasi ini sebagai pertukaran informasi genom virus Sars cov-2 di tiap negara, serta berbagai ilmu pengetahuan dalam percepatan pembuatan vaksin.

Dengan demikian, akan lebih memudahkan para ahli menemukan solusi vaksin bagi dunia.

Dalam platform digital tersebut ada knowledge sharing tapi tetap menjaga kerahasiaan, security dan properti tiap negara, sehingga, kolaborasi para insinyur sedunia ini hanya bisa dilakukan kalau standar kompetensinya disetarakan secara global.

Di Indonesia, standarisasi ini sudah dilakukan oleh PII bersama seluruh institusi pendidikan tinggi teknik dan asosiasi keahlian keteknikan.

“Standarisasi kompetensi insinyur di Indonesia dilakukan sepanjang rantai nilai keinsinyuran (Engineering Value Chain),” ujarnya, seperti dilansir Antara, Sabtu (17/10/2020).

Rantai nilai yang pertama, papar Heru, adalah standarisasi kualitas program studi teknik di perguruan tinggi melalui akreditasi internasional.

Rantai kedua, pendidikan profesi insinyur, dan rantai ketiga adalah standarisasi kompetensi insinyur profesional (IP) melalui sertifikasi internasional, serta rantai berikutnya registrasi insinyur.

Insinyur sedunia juga perlu melakukan standarisasi pendidikan teknik melalui akreditasi dan standarisasi kompetensi IP melalui saling pengakuan atau MRA (mutual recognotion agreement) secara internasional.

“Jadi kalau ingin membangun SDM yang unggul dan berdaya saing global di bidang keinsinyuran, PII sudah menyiapkan sarana dan prasarananya di sepanjang rantai nilai keinsinyuran tersebut,” ujarnya. (ant/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pak Nunut Pak …

Jelang Tol Manyar Banjir

‘Ranjau’ di Bawah Layang Trosobo

Empat Stand Pasar Ikan Hias Gunung Sari Terbakar

Surabaya
Minggu, 24 Januari 2021
28o
Kurs