Sabtu, 26 September 2020

Sejumlah Kabupaten/Kota di Jatim Menyatakan Siap Membuka Tempat Wisata

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Pengunjung mengamati Gunung Bromo di samping papan rambu tiga bahasa di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (27/8/2019). Foto: Antara

Seiring kebijakan pemerintah menerapkan tatanan normal baru (new normal) yang produktif dan aman dari Covid-19, sejumlah kabupaten/kota di Jatim menyatakan siap membuka tempat wisata.

Sinarto Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim mengatakan, daerah yang menyatakan kesiapannya itu antara lain Banyuwangi, Pacitan, Blitar, juga tiga kabupaten/kota di Malang Raya.

Kemarin banyuwangi sudah siap. Kota Batu, setelah PSBB tidak diperpanjang, sangat mempersiapkan sebaik-baiknya. Lalu Pacitan dan Blitar juga menyatakan sudah siap,” katanya.

Setelah kebijakan penutupan semua destinasi wisata di Jawa Timur akibat pandemi Covid-19, Sinarto mengakui bahwa usaha pariwisata di Jawa Timur memang sudah menunggu-nunggu perubahan ini.

Sebelum benar-benar membuka tempat wisata yang ada, Sinarto menegaskan bahwa masing-masing pemerintah kabupaten/kota perlu memastikan penerapan protokol kesehatan yang tegas.

Masing-masing tempat wisata yang akan dibuka, kata dia, harus benar-benar menyesuaikan dengan protokol kesehatan sesuai aturan dari Kementerian Kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Mulai dari sarana dan prasarana yang mendukung protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, thermo gun, hand sanitizer dan sebagainya, sampai tata laksana seperti jaga jarak secara fisik.

“Semua pengelola wisata, baik wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan harus mengikuti dan menyesuaikan dengan protokol kesehatan,” ujarnya kepada suarasurabaya.net, Rabu (3/6/2020).

Khofifah Gubernur Jatim, kata Sinarto, sekali lagi mengingatkan agar semua kesiapan pelaksanaan protokol kesehatan itu harus kembali dipastikan sebelum pengelola membuka tempat wisata itu.

“Kami (Disbudpar) akan mengecek, kami akan lihat bagaimana sarana prasarananya, SDM-nya, juga tata laksana di masing-masing tempat wisata yang diusulkan masing-masing pemda,” katanya.

Berkaitan dengan salah satu unsur protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, yakni jaga jarak fisik (physical distancing), Kadisbudpar Jatim itu mencontohkan wisata Bukit Penanjakan di Bromo.

Sebelum Covid-19, lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan matahari terbit di kawasan Bromo-Tengger-Semeru itu biasanya sampai kelebihan kapasitas (overload).

Kapasitas normal di Bukit Penanjakan, sebagaimana dinyatakan Dinas Pariwisata setempat, hanya 900 orang per hari. Tapi praktiknya bisa melebihi kapasitas normal itu mencapai lebih dari 1.000 wisatawan.

“Nah, itu harus diatur mulai dari pemesanan perjalanan. Dibatasi 50 persen saja yang dibolehkan datang. Berarti, kondisi normal yang baru, kapasitas di Penanjakan hanya 450 orang per hari,” katanya.

Disbudpar Jatim sendiri, kata Sinarto, saat ini sedang mempersiapkan sejumlah langkah untuk menyukseskan pembukaan kembali tempat wisata di Jawa Timur. Salah satunya di bidang promosi.

Disbudpar Jatim akan membantu promosi ketika tempat-tempat wisata di Jatim itu siap dibuka, yang bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa tempat wisata itu benar-benar aman dari Covid-19.

“Kalau sudah dipastikan bahwa para pengelola wisata ini siap membuka tempatnya, kami akan maksimalkan di bidang pemasaran. Kami pikirkan bagaimana meyakinkan wisatawan untuk datang,” ujarnya.(den/tin/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Sabtu, 26 September 2020
34o
Kurs