Senin, 28 September 2020

Selain Wisata, Pasar Bisa Jadi Destinasi Edukasi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Pembatas tirai plastik wajib ada di setiap lapak penjual aneka kebutuhan di pasar Genteng, Surabaya. Foto: Totok suarasurabaya.net

Beberapa pasar di Surabaya menjadi destinasi wisata, seperti Pasar Wonokromo dan Pasar Pabean. Namun selain menjadi destinasi wisata, sudah saatnya pasar juga menjadi destinasi edukasi khususnya anak-anak.

Hal ini disampaikan Muhibudin Direktur Tehnik PD Pasar Surabaya. Menurutnya, saat ini banyak anak-anak yang belum mengetahui apa saja bahan mentah olahan makanan yang mereka makan.

“Selanjutnya pengembangan edukasi. Misal saya ajak anak-anak saya di pasar, ternyata banyak yang tidak diketahui anak-anak kecil di pasar. Mereka tidak pernah tahu bahan mentahnya seperti apa bagaimana caranya bikin pentol itu dan sebagainya,” kata Muhibudin kepada Radio Suara Surabaya, Kamis (13/8/2020).

Dengan mendatangi pasar, anak-anak dan remaja menjadi tahu beragam bahan makanan. Dengan mengetahui bahan makanan, mereka akan paham tentang pengetahuan olahan makanan yang belum tentu bisa didapatkan di sekolah.

Namun Muhibudin mengatakan, masih ada ‘pekerjaan rumah’ agar pasar menjadi tempat yang nyaman bagi destinasi wisata maupun edukasi. Salah satunya tentang kebersihan pasar.

Selain soal kebersihan yang harus dimaksimalkan lagi, manajemen PD Pasar juga membutuhkan inovasi dan kontribusi dari enterpreneur muda untuk ikut mengembangkan pasar.

“PD Pasar kan memanage agar kebersihan tetap terjaga, daya tariknya ada, akhirnya anak-anak muda itu mau dan tertarik masuk ke dalam pasar. Saat pemikir-pemikir muda, enterpreuneur masuk kan bisa memberi kontribusi positif. Kalau kita berpikir sendiri, harapan dan cita-cita itu sepertinya susah dicapai,” ujarnya.

Meski begitu, menurutnya kondisi pasar saat ini jauh lebih bersih dibanding sebelumnya. Namun, lanjutnya, masyarakat tidak bisa membandingkan pasat tradisional sama seperti pasar modern karena adanya biaya operasional yang lebih tinggi jika di pasar modern.

“Memang jangan dibandingkan pasar modern harus 100 persen sama seperti pasar modern karena operational cost-nya berbeda. Karena murahnya barang. Untuk mencapai itu, ongkos operasionalnya lebih murah,” tambahnya.(tin/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
27o
Kurs