Minggu, 25 Februari 2024

Setiap Hari Ada Data Pasien Positif Covid-19 Tak Sinkron

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Rince Pangalila, M.Kes Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Surabaya di Balai Kota Surabaya, Jumat (19/6/2020). Foto : Abidin suarasurabaya.net

Data kasus Covid-19 ternyata lebih banyak dari yang diumumkan ke publik secara harian. Sebab, hampir di setiap daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus menahan sebagian data yang perlu diklarifikasi sampai sesuai baik nama maupun alamat pasien itu terjangkit.

Rince Pangalila, M.Kes Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Surabaya mengatakan, data tidak sinkron ini hampir setiap hari ada. Sehingga sesuai kesepakatan dengan Provinsi Jatim harus disisihkan dulu untuk diklarifikasi bersama kabupaten/kota lainnya.

“Data yang dikembalikan ke Provinsi Jatim itu merupakan sisa data yang berhasil di-tracing dan valid ada di Surabaya, dalam konteks epidemiologi,” ujar Rince di Balai Kota Surabaya, Jumat (19/6/2020).

Rince menjelaskan, alur data rekap positif Covid-19 itu mulai dari Laboratorium, turun ke Balitbangkes Kemenkes hingga turun ke Dinkes Provinsi, lalu disebarkan ke Dinkes Kabupaten/Kota.

Setelah itu Dinkes Kabupaten/Kota melakukan tracing dan klarifikasi memastikan domisili pasien tersebut. Angka yang berhasil dipastikan dimasukkan ke kabupaten/kota, selebihnya yang belum jelas dikembalikan ke Provinsi.

Rince menjelaskan, data yang turun dari Provinsi ini sudah hampir pasti menyisakan data yang belum final. Karena data yang keluar itu ada yang tidak sesuai dengan KTP maupun domisili yang diterangkan oleh pasien sebelum periksa di sejumlah Laboratorium.

Dia mencontohkan, data 188 positif dari Provinsi setelah dilacak ketemu 88, berarti masih ada 100 yang harus ditandon atau ditahan dikembalikan ke Provinsi.

“Setelah dilacak oleh petugas puskesmas tidak semua terkonfirmasi alamatnya. Bahkan, ada yang hanya menyertakan alamat Kecamatan tertentu saja,” katanya.

Pada kasus warga luar daerah Surabaya juga demikian. Kadang ada warga KTP luar Surabaya tapi menulis alamat domisili di Surabaya.

“Karena memang kerja dan indekos di Surabaya. Kalau seperti itu sudah pasti enak. Tim tracing tinggal mencari kontak eratnya. Meskipun warga luar Surabaya tetap dicatatkan di data positif Surabaya, karena sesuai epidemiologisnya,” katanya.

Petugas tracing kata Rince, juga pernah menemukan alamat palsu yang tertera di data itu. Karena setelah dilacak tidak ada pasien di alamat tersebut. “Kalau begini langsung dimasukkan ke data yang ditandon di Provinsi tadi,” katanya.

Temuan data tidak sesuai di lapangan ini hampir dialami semua daerah karena ada beberapa pasien itu tidak jujur menerangkan alamat saat tes lab. Sementara, tidak semua lab yang ada di Surabaya menerima data detail alamat dari pasien termasuk yang tes mandiri.

“Karena ada data pasien yang tes mandiri itu juga terkirim semua ke pusat,” katanya.

Meski begitu, Rince memastikan data pasien positif yang tertahan itu masih dalam penanganan baik itu berada di RS, ruang isolasi hotel, RS Darurat maupun isolasi mandiri di rumah. Karena asalnya juga dari hasil tracing.

“Pasiennya tentu dalam penanganan, hanya saja data yang perlu dipastikan ini ikut daerah mana harus dikonfirmasi lagi dulu,” katanya.

Rince mengatakan, data tandonan ini bisa ketambahan data baru setiap harinya. Namun data tandonan lama juga bisa berkurang seiring tracing dan klarifikasi bersama dengan daerah lain yang dikoordinasikan Provinsi Jatim.

Bagi tim tracing, kata Rince, validitas data ini penting karena untuk mempercepat tim tracing dalam memutus mata rantai penyebaran dengan tepat. “Maka kita harus bersama-sama masyarakat dan pemerintah untuk melawan Covid-19 ini. Pasien harus jujur dalam memberikan alamat,” katanya.

M Fikser Wakil Koordinator Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya mengatakan, setelah data pasien confirm itu fix terkonfimasi, Pemkot Surabaya melakukan serangkaian penanganan mitigasi. Seperti wilayah tempat tinggal pasien dilakukan penyemprotan disinfektan, rapid test dan swab massal.

“Hasil tes langsung dipilah, yang positif dirawat di RS apabila ada gejala. Sedangkan yang tidak ada gejala ditempatkan di Hotel,” kata Fikser.

Selain itu wilayah yang berdekatan dengan tempat tinggal pasien dilakukan pembatasan atau di-lockdown untuk membentengi penyebaran virus.

“Jadi data itu menjadi penting bagi kita. Karena untuk penanganan lebih cepat dan tepat,” katanya. (bid/iss)

Bagikan
Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Minggu, 25 Februari 2024
27o
Kurs