Rabu, 17 Agustus 2022

Sekdaprov Jatim Tegaskan Data Covid-19 di Jatim Valid

Laporan oleh Anggi Widya Permani
Bagikan
Heru Tjahjono Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur saat Konferensi Pers Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, Senin (25/5/2020). Foto : YouTube

Heru Tjahjono Sekdaprov Jatim menegaskan, data Covid-19 yang dikeluarkan Pemprov Jatim itu valid. Di mana data tersebut didapatnya dari Dinas Kesehatan (Dinkes) kota atau kabupaten di Jatim.

Selain itu, pihaknya juga mencari dan menerima laporan dari masyarakat, dibantu oleh BNPB, dan dinas-dinas terkait lainnya untuk memastikan validitas data tersebut.

“Selain mencari, ada laporan, dari Dinas kabupaten/kota, dan kita ngecek juga, kita dibantu BNPB, ada dari Dinas, dan tidak mungkin (tidak valid, red), sekali lagi nggak mungkin, ini adalah perang kita dengan Covid-19,” kata Heru, berdasarkan rilis yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (18/6/2020).

Heru juga menegaskan, selama ini Pemprov Jatim tidak akan mengandalkan informasi berupa data, yang tidak didasari oleh satu kondisi lapangan. Ia mengklaim, jika data yang diperoleh oleh Pemprov Jatim tersebut merupakan hasil olahan para pakar di bidangnya.

“Jadi tidak mungkin (data tidak valid). Jadi pemerintah provinsi tidak akan melakukan informasi berupa data yang tidak didasari oleh satu kondisi lapangan, data itu diolah oleh pakar-pakar,” tegasnya.

Menurutnya, kasus pandemi Covid-19 ini adalah tanggungjawab semua pihak. Sehingga, lanjut dia, tidak mungkin Pemprov Jatim mengeluarkan data yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan.

Apalagi, data-data yang diperolehnya tersebut berasal dari Dinkes kota/kabupaten, maupun dari pusat.

“Jadi sekarang ini pandemi adalah tanggung jawab kita semua. Kita tidak mungkin mengeluarkan data yang tidak sesuai dengan lapangan, berdosa. Datanya banyak, ada yang dari dinkes, ada juga data yang dari pusat,” jelasnya.

Dikonfirmasi kemungkinan adanya salah data berdasarkan domisili, ia menyebut hal-hal semacam itu telah diselesaikan dengan baik. Sehingga, tidak menjadi masalah ketika data sudah terpublikasikan.

“Misalnya ya, sakitnya di Sidoarjo, tinggalnya Surabaya. Nah itu sudah di-clear-kan, gak mungkinlah, urusannya dengan orang mati. Dosa pak dosa, ngawur ae, berdosa,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkot Surabaya meragukan validitas data kasus confirm yang diklaim oleh Pemprov Jawa Timur. Kekeliruan data tersebut bahkan diklaim hingga separuh atau menyentuh angka 50 persen lebih.

Febria Rachmanita Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, mengaku ada perbedaan data laporan Pemprov Jatim dan hasil tracing Pemkot Surabaya.

“Kita lakukan pengecekan. Begitu kita dapat data dari provinsi, puskesmas akan mencari apakah benar orangnya ada di situ, apakah benar orang itu tinggal di situ, apakah benar alamat itu ada,” kata perempuan yang akrab disapa Feny tersebut.

Menurut dia, adanya perbedaan data antara Gugus Tugas Provinsi Jatim dan kota karena ada nama maupun alamat yang ganda. Bahkan, ada pula data yang setelah di-tracing ternyata orang itu sudah tidak tinggal atau domisili di Surabaya, meski masih menggunakan KTP Surabaya. (ang/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Rabu, 17 Agustus 2022
28o
Kurs