Sabtu, 28 November 2020

Surabaya dan Sidoarjo Belum Boleh Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Khofifah Gubernur Jatim bersama Wahid Wahyudi Kepala Dinas Pendidikan Jatim saat meninjau sekolah tatap muka di Nganjuk, Senin (24/8/2020). Foto: Istimewa

Wahid Wahyudi Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur memastikan, perluasan pembelajaran tatap muka di sekolah belum termasuk di Surabaya dan Sidoarjo.

Kedua daerah itu, kata Wahid, masih berstatus zona merah sesuai peta kerawanan Covid-19 dari Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat.

“Sekolah yang ingin membuka belajar tatap muka harus dapat rekomendasi dari gugus tugas Covid-19 kabupaten/kota. Dan untuk zona merah tidak. Surabaya dan Sidoarjo belum,” katanya, Sabtu (5/9/2020).

Sebagaimana diketahui, sejak 31 Agustus 2020 Pemprov Jatim memperluas uji coba pembelajaran tatap muka dari sebelumnya hanya satu SMA, SMK, dan SLB setiap daerah.

Hasil evaluasi pembelajaran tatap muka tahap pertama yang berlangsung sejak 18-30 Agustus kemarin dia klaim sudah berjalan baik. Berbagai pihak termasuk guru dan orang tua mendukung uji coba ini.

“Tadinya masing-masing kabupaten/kota itu hanya satu SMA, SMK, dan SLB. Mulai 31 Agustus 2020 jumlah SMK-nya ditambah jadi masing-masing kabupaten/kota 25 persen (dari total jumlah sekolah)” tegasnya.

Wahid tidak menyebutkan jumlah sekolah yang sudah membuka proses belajar mengajar tatap muka. Ia hanya menegaskan, untuk tahap kedua uji coba pembelajaran tatap muka ini yang diperbanyak baru jenjang SMK.

Kalau di salah satu kabupaten/kota total jumlah SMK ada tujuh sekolah, yang boleh membuka pembelajaran tatap muka hanya dua sekolah saja. “SMA masih belum. Bertahap,” kata Wahid dihubungi melalui WhatsApp.

Seiring uji coba pembelajaran tatap muka ini, Wahid memastikan bahwa Pemprov Jatim juga menggelar rapid tes massal untuk guru dan tenaga pendidikan, baik SMA/SMK/SLB di Jatim.

Dia memaparkan, sudah ada 10 ribu guru dan tenaga pendidikan yang mengikuti rapid tes tahap pertama. Selanjutnya menyusul 10 ribu orang lagi pada tahap kedua.

“Dinas Kesehatan yang lebih paham data secara detail, karena Dinkes yang menggelar rapid test untuk guru dan tenaga pendidikan ini,” katanya.(den/tin)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Sabtu, 28 November 2020
26o
Kurs