Senin, 4 Juli 2022

Alasan Mengapa Perlu Berhati-Hati Saat Jual Beli di Dunia Metaverse

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi.

Prof. Marsudi Wahyu Kisworo Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Bina Darma, Pelembang mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat bertransaksi di dunia Metaverse.

“Jangan sampai kecanduan karena ini mirip judi. Kalau mau bermain, hati-hati. Selalu ingat prinsip ekonomi adalah zero-sum game. Suatu saat kita untung, suatu saat kita rugi,” kata pria yang juga Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional ini kepada Radio Suara Surabaya, Senin (20/12/2021).

Dalam prinsip ekonomi itu zero-sum game, tidak ada yang semuanya menang. Kalau ada yang untung, pasti ada yang rugi. Orang yang rugi adalah orang yang hanya ikut-ikutan. Dan lagi, jika sampai terjadi kejahatan virtual, misalnya kripto tidak bisa diuangkan di dunia nyata, belum ada hukum yang melindungi.

Prof Marsudi menjelaskan, selama ini kita mengenal masyarakat virtual, contohnya Facebook, di mana kita punya teman banyak sampai lima ribu teman tapi barangkali yang kenal hanya sepuluh orang. Metaverse adalah versi canggih dari social world. Kalau tadinya interaksinya hanya menggunakan teks, sekarang pengguna bisa berinteraksi dengan seolah-olah berada di dalamnya.

“Awalnya sudah dimulai dengan permainan yang kita rancang sendiri kotanya, digabung dengan teknologi media sosial dan virtual reality. Sehingga seolah-olah kita berada di dunia virtual tersebut, seolah-olah kita di dunia yang lain yang namanya Metaverse. Kita bisa punya aset, keluarga, kehidupan, yang seolah-olah nyata padahal virtual,” ujarnya.

“Dulu ada Non Fungible Token atau NFT, semacam kita punya token atau aset, tapi tidak bisa rusak karena tidak berbentuk fisik. Bisa berupa lukisan, rumah, tanah, tapi punya harga meskipun tidak berbentuk fisik,” tambahnya.

Aset di Metaverse, kata Marsudi, bisa diperjualbelikan karena mempunyai nilai. Layaknya perusahaan start up yang tidak dinilai aset fisiknya, tapi lebih kepada valuasi.

“Gabungan valuasi, virtual world, lalu mungkin nanti dilengkapi avatar kita. Bisa saja avatar kita bisa bergaul, punya aset rumah, yang harus kita beli dengan harga yang mahal tapi di dunia sana, bukan di dunia fisik. Karena punya nilai, bisa diperjualbelikan. Seperti gim beli tameng, beli senjata, tapi kan tidak ada di dunia nyata,” ujarnya.

Marsudi memprakirakan euforia Metaverse bisa saja hanya musiman. Seperti tren lain yang nilainya dibangun dari narasi yang beredar dan berkembang di masyarakat. Seperti tanaman gelombang cinta atau emoji yang dibeli seharga sejuta dolar.

“Manusia sekarang kan hidup dengan narasi, seperti kasus gelombang cinta. Dengan adanya narasi dia punya valuasi. Tapi kemudian kalau sudah tidak bisa dijual lagi ya habis nilainya. Orang yang tidak paham bisa terjeblos seperti permainan valuasi kripto,” tuturnya.(iss/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 4 Juli 2022
28o
Kurs