Selasa, 11 Mei 2021

Dua Mata Pisau Pemberian Gadget Pada Anak

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi anak bermain gadget. Foto: Pixabay

Memberikan dan mengenalkan gadget pada anak ibarat dua mata pisau. Ada manfaatnya, namun ada juga dampak buruknya.

Dr Elly Yuliandari MSi, Psikolog anak dari RS PHC Surabaya mengatakan, pemberian gadget pada anak di era saat ini merupakan sebuah tuntutan yang mau tidak mau harus dipenuhi orang tua. Namun dalam pemberian ini harus disertai dengan pengenalan tanggung jawab.

“Dengan mengenalkan tanggung jawab, berarti kita siap melepas dia ke dunia yang lebih luas dan situasi yang tidak menentu dan levelnya sudah level dunia,” kata Elly kepada Radio Suara Surabaya, Rabu (3/2/2021).

Pengenalan tanggung jawab ini, bisa menghindarkan anak dari hal-hal yang dapat memanipulasinya saat mengenal dunia tak terbatas melalui internet. Kalau anak sudah siap dengan tanggung jawab, berarti anak sudah siap untuk diajak berdiskusi tentang tanggung jawab, batasan, dan mengelola diri karena dengan gadget, internet yang dibanjiri berbagai pengetahuan semakin terbuka luas.

Namun perlu diingat, memberikan gadget pada anak dapat memicu adiksi atau kecanduan internet. Dalam beberapa kasus, kata Elly, dijumpai anak yang membatasi relasi sosialnya.

“Dia hanya mau bekromunikasi dengan komputernya, sepanjang hari yang dia lakukan di depan komputer. Baik nge-game atau sosial media. Karena di situ dia memperoleh semuanya,” terangnya.

Kecenderungan ini banyak ditemukan di Jepang, tapi di Indonesia juga dijumpai kasus serupa. Anak tidak mau berkomunikasi dengan orang tua atau anggota keluarga dan memilih menghabiskan diri di depan komputer.

Penyebabnya ada beberapa. Salah satunya adalah kekecewaan.

“Mulanya kekecewaan dengan relasi sosial, kemudian menutup diri dan seiring dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan manusia berkomunikasi tidak harus berinteraksi face to face. Kalau dia gak suka tinggal turn off, tapi kalau kita dalam bersosialisasi kita harus menyesuakan diri, belajar berkomunikasi, dan membuat orang lain nyaman,” ucap Elly.

Internet menjadi peluang untuk pengetahuan yang tidak berbatas yang tidak dapat diberikan oleh guru ataupun dosen. Namun perlu disadari risiko yang mengintai juga besar.

Sebagai solusi, orang tua juga harus mengetahui bagaimana pola anak dalam menggunakan gadget, kegiatan dalam ber-gadget hingga situs yang diakses. “Akan menjadi bahaya kalau sumber bahagianya hanya handphone saja.”(dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Wadungasri Macet

Kecelakaan di Gunungsari

Kecelakaan di Manyar Gresik

Truk Terguling, Solar Menggenangi Jalan

Surabaya
Selasa, 11 Mei 2021
28o
Kurs