Selasa, 5 Juli 2022

Fadly Korban Sriwijaya Air SJ-182 Merupakan Co-Pilot Nam Air

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Sumarzen Marzuki (63) ayahanda Fadly Satrianto (28) salah seorang manifest Sriwijaya Air SJ-182 di rumah duka Jalan Tanjung Pinang, Perak, Kota Surabaya pada Minggu (10/1/2021). Foto: Abidin suarasurabaya.net

Fadly Satrianto (28) salah seorang manifest Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu merupakan Co-Pilot Nam Air, maskapai anak perusahaan Sriwijaya Air.

Sumarzen Marzuki (63) ayahanda Fadly menceritakan, tujuan anak bungsunya itu terbang bersama Sriwijaya Air ke Pontianak karena tugas untuk membawa Nam Air dari Pontianak ke tempat lain bersama 6 orang kru lainnya, sebelum kejadian musibah itu.

“Direktur Operasi Nam Air telepon kami meminta maaf, Fadly bersama 6 orang satu tim ditugaskan ke Pontianak membawa pesawat Nam Air dari Pontianak ke tujuan lain. Tapi dalam waktu yang ditentukan tidak ada pesawat Nam yang menuju Pontianak. Akhirnya naik Sriwijaya Air SJ-182, statusnya extra crew di situ untuk mengambil pesawat ke Pontianak dibawa ke tempat lain,” kata Marzuki di rumah duka Jalan Tanjung Pinang, Perak, Kota Surabaya pada Minggu (10/1/2021).

Fadly merupakan anak ketiga Marzuki yang paling bungsu. Perjalanan Fadly akhirnya jadi Co-Pilot, setelah lulus Sarjana Hukum Universitas Airlangga Surabaya. Kemudian, dia mendapat informasi dari salah satu kawannya yang kebetulan juga seorang pilot tentang peluang kerja di penerbangan dan mengambil pendidikan di Nam Air selama satu setengah tahun.

“Anak ketiga kami yang paling bungsu, paling bontot. Tiga tahun lalu bekerja di Nam Air. Sekolah di Nam Air di Bangka Belitung,” katanya.

Sekarang ini, pihak keluarga memutuskan tidak berangkat ke Jakarta karena kondisi Covid-19. Tapi, Marzuki telah berkoordinasi dengan Tim DVI Polda Jatim untuk kebutuhan membantu identifikasi. Bila dibutuhkan tes DNA sewaktu-waktu pihaknya siap.

“Inisiatif kita tidak usah ke Jakarta. Karena menurut informasi di media, tes DNA ada mediatornya. Bisa diambil melalui RS Bhayangkara. Kami juga koordinasi dengan DVI terkait pengambilan sampel untuk mempercepat identifikasi,” katanya.

Marzuki mengatakan, kontak terakhir Fadly dengan keluarga adalah Sabtu 9 Januari 2021 pukul 08.00 WIB kemarin. Fadly selalu berkabar setiap akan berangkat tugas.

“Kemarin kontak terakhir jam 8 pagi kontak ke mamanya. Mau ke Pontianak. Tidak membawa pesawat tapi sebagai penumpang,” katanya.

Marzuki dan keluarga besar Fadly berharap yang terbaik untuk musibah ini. Mereka berharap Fadly ditemukan dalam keadaan selamat. Tapi, kalau Tuhan berkehendak lain, keluarga ikhlas menerima.

“Harapan kami keluarga besar, bisa diketemukan putra kami dan termasuk yang (penumpang) lain juga, dalam keadaan selamat. Kalau Allah SWT berkehendak lain, kita harus mengikhlaskan. Kita ikhlas, musibah kecelakaan yang tidak perlu kita sesali dan ini adalah suatu kejadian,” katanya. (bid/tin)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
27o
Kurs