Kamis, 21 Oktober 2021

IDI: 545 Dokter Meninggal sampai 17 Juli 2021, Jatim Tertinggi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Dokter dan tenaga medis melaksanakan shalat jenazah dokter spesialis paru positif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, Aceh, 29 September 2020. Foto: Antara

Dr. Mahesa Paranadipa Ketua Pelaksana Harian Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyatakan, sebanyak 545 orang dokter di Indonesia meninggal sampai 17 Juli 2021.

“Kalau melihat data kematian dokter saja sebaran per bulan, untuk bulan Juli ini angkanya sudah melebihi 100 persen dari jumlah kematian bulan Juni lalu. Total kematian dokter saat ini 545 sejawat dokter (per 17 Juli 2021),” ujarnya.

Dia menyatakan itu dalam Diskusi Media via daring bertajuk “Update kondisi Dokter dan Strategi Upaya Mitigasi Resiko mencegah Kolapsnya Fasilitas Kesehatan”, Minggu (18/7/2021).

Berdasarkan wilayah, dokter di wilayah Jawa Timur yang menempati posisi angka kematian dokter tertinggi dengan total 110 orang, DKI Jakarta 83 orang, Jawa Tengah 81 orang, Jawa Barat 76 orang dan Sumatera Utara 38 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, dokter laki-laki paling banyak meregang nyawa dengan total 84 persen atau sebanyak 453 orang.

Menurut Mahesa, hal ini mengingat tugas-tugas yang banyak dikerjakan dokter laki-laki di area isolasi Covid-19 walaupun memang banyak juga dokter perempuan yang bertugas.

Sementara dari sisi spesialisasi, dokter umum menempati urutan tertinggi dari total kematian, yakni 292 orang. Kemudian spesialis (241 dokter). Meliputi spesialis kandungan dan kebidanan, penyakit dalam, anak, bedah, anestesi, dan THT-KL.

Di sisi lain, data dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) per 18 Juli 2021 menunjukkan sekitar 7.392 perawat yang terkonfirmasi positif, suspek sebanyak 309, dan mereka yang gugur sebanyak 445 orang perawat.

Mahesa pun menyoroti kondisi lonjakan pasien Covid-19 beberapa waktu terakhir yang menyebabkan tenaga kesehatan dapat beban kerja berlebihan. Dia khawatir, hal itu memunculkan potensi kelelahan pada tenaga kesehatan, yang berimbas pada menurunnya imunitas mereka.

“Kami, Tim Mitigasi PB IDI sudah memberikan pedoman terkait perlindungan dokter. Hanya memang, walau pun sebagian besar tenaga dokter sudah vaksin sampai suntikan kedua, tapi lonjakan pasien yang cukup tinggi menyebabkan overload beban kerja,” katanya dikutip Antara.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kondisi ini, kata dia, harus tetap ada edukasi pada masyarakat untuk patuh menerapkan protokol kesehatan (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilisasi dan menghindari kerumunan).

Di sisi lain, Tim Mitigasi IDI percaya pemerintah mengambil kebijakan untuk tetap melindungi dan menyelamatkan seluruh rakyat.

“Kami mohon kerja sama seluruh pihak untuk sama-sama menjadikan pertarungan melawan pandemi ini pertarungan bersama agar kasus-kasus bisa kita tekan,” ujar Mahesa.(ant/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Kamis, 21 Oktober 2021
34o
Kurs