Senin, 5 Desember 2022

Menaker RI: Soal K3 Butuh Kolaborasi Banyak Pihak

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Ida Fauziyah Menaker dalam webinar yang diselenggarakan Unusa, Selasa (2/3/2021). Foto: Istimewa

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Dr. Hj. Ida Fauziyah, M.Si menjelaskan, dalam membudayakan K3 harus ada kolaborasi dan sinergi antara stakeholder, kementerian, serikat pekerja, pekerja, asosiasi, pengusaha dan juga dunia akademik seperti Unusa.

“Saya Menaker, sangat mengapresiasi kegiatan festival bulan K3 ini, para akademisi dan mahasiswa menjadi motor penggerak semua pihak tersebut,” jelas Ida Fauziyah hal ini disampaikannya dalam webinar nasional K3 yang digelar Himpunan Mahasiswa (Hima) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Selasa (2/3/2021).

Selain Menaker, hadir pula Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng Rektor Unusa, Edi Priyanto Direktur SDM Pelindo 3, dan Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes Kaprodi K3 Unusa dalam forum tersebut.

Ida mengapresiasi langkah Unusa yang telah melakukan kerja sama dengan perusahaan dalam rangka meningkatkan upaya kolaborasi dan sinergi dalam berbagai kegiatan. “Ini cukup bagus untuk kolaborasi dan sinergi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan Unusa,” terang Ida.

Sementara itu, Achmad Jazidie menjelaskan, perubahan zaman sangatlah cepat, revolusi industri saat ini masuk tahap keempat atau era 4.0, di mana perubahan besar-besaran terjadi di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi. Dengan adanya tema webinar tersebut, membuat Hima K3 Unusa dapat melihat peluang dan kesempatan untuk mengampanyekan budaya K3 dari rumah masing-masing.

“Teman-teman mahasiswa dari Hima K3 Unusa ini sangat cerdik dan cerdas mengambil tema penguatan sumber daya manusia yang unggul dan berbudaya K3 pada semua sektor usaha dalam memperingati bulan K3 Nasional ini,” jelas Jazidie.

Edi Priyanto turut memaparkab, dalam membudayakan K3 perlu pendekatan secara individu. “Di mana leader harus mampu dalam mengembangkan potensi tim serta menggali permasalahan yang dihadapi dengan couching dan counseling yang baik,” papar Edi.

Muslikha Nourma Rhomadhoni menjelaskan perilaku budaya K3 tidak bisa diciptakan sendiri oleh perusahaan tapi juga perlu peran dari semua pihak seperti pekerja, pemimpin yang menggerakan tim untuk melaksanakan budaya K3 di tempat kerja.

“Pentingnya melakukan program k3 di perusahaan tidak hanya dilakukan saja tetapi juga dilakukan evaluasi sehingga menjadi perbaikan ke depannya,” pungkas Muslikha Nourma Romadhoni.(tok/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Muatan Truk Jatuh Menutup Lajur di Jalan Dupak

Menerjang Kemacetan di Jembatan Branjangan

Atap Teras Pendopo Gresik Roboh

Surabaya
Senin, 5 Desember 2022
28o
Kurs