Sabtu, 15 Mei 2021

Perjuangan Kartini, Sekolah Wanita Hingga Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Foto: Kemendikbud

Perjuangan Raden Ajeng Kartini sudah berlangsung jauh sebelum perilisan buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yaitu dimulai dari kesempatannya mengenyam bangku pendidikan.

Diceritakan dalam laman kemendikbud.go.id, sebagai seorang bangsawan, R.A. Kartini berhak memperoleh pendidikan. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) hanya sampai usia 12 tahun. Di sinilah Kartini belajar bahasa Belanda.

Pada masa itu, anak perempuan seusia Kartini harus tinggal di rumah untuk dipingit. Selama tinggal di rumah, Kartini belajar sendiri dan mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Dari Abendanon, Kartini mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang  kemajuan berpikir perampuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang saat itu berada pada status sosial yang amat rendah.

Perjuangan Kartini terus berlanjut meski dia telah menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat Bupati Rembang. Salah satunya dengan mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini.

Kartini menghembuskan napas terakhirnya pada usia 25 tahun, beberapa hari setelah melahirkan anaknya, dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Wafatnya R.A. Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuang R.A. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa.

Abendon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini diterbitkan pada tahun 1911 dan cetakan terakhir ditambahkan surat “baru” dari Kartini.

Pemikiran-pemikiran Kartini dalam surat-suratnya tidak pernah bisa dibaca oleh beberapa orang pribumi yang tidak dapat berbahasa Belanda. Baru pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran dengan bahasa Melayu.

Pada tahun 1938, salah satu sastrawan bernama Armijn Pane yang masuk dalam golongan Pujangga Baru menerbitkan versi translasinya sendiri dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Versi milik Pane membagi buku ini dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini yang terus berubah. Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul, dan semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu.

Pemikiran Kartini dalam buku  Habis Gelap Terbitlah Terang banyak mengubah pola pikir masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi ketika itu. (iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Wadungasri Macet

Kecelakaan di Gunungsari

Kecelakaan di Manyar Gresik

Truk Terguling, Solar Menggenangi Jalan

Surabaya
Sabtu, 15 Mei 2021
32o
Kurs