Selasa, 28 September 2021

Raden Saleh, Pangeran dari Jawa yang Hari Lahirnya Diperingati Masyarakat Maxen, Jerman

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Suasana peringatan hari kelahiran pelukis asal Indonesia Raden Saleh di Rumah Biru di Kota Maxen, Jerman, pada Sabtu (22/5/2021). Foto: Antara

Raden Saleh yang dikenal sebagai Pangeran dari Jawa oleh penduduk Kota Maxen, Jerman, menjadi sosok penting dan dihormati di kota itu. Dia mampu menjembatani kultur Indonesia dan Jerman lewat seni sejak 1839-1849.

Dia mengawali perjalanannya ke Maxen dengan mengunjungi kota Dusseldorf, kemudian Frankfurt, lalu Berlin untuk melanjutkan studi melukisnya dengan para pelukis Jerman. Sampai akhirnya dia tiba di kota Dresden, lalu Maxen.

Seperti dilansir Antara, Raden Saleh tinggal di Maxen selama 10 tahun. Masyarakat kota Maxen sendiri menerima kehadiran pelukis kelahiran 1811 itu secara terbuka sehingga menyebutnya sebagai Pangeran dari Jawa.

“Dia adalah jembatan kultur antara Indonesia dan Jerman sehingga kedua bangsa bisa saling mengenal, mengisi, dan memperkaya,” ujar Michael Simon dan Giselle Simon, penduduk kota Maxen.

Menurut mereka, tokoh kelahiran Semarang, Jawa Tengah yang bernama panjang Saleh Sjarif Boestaman itu telah memperkenalkan Jawa kepada orang Jerman melalui karya seni.

“Bayangkan seorang Jawa bisa hadir di Maxen ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari masyarakat Maxen dan dihormati karena karya lukisnya yang luar biasa,” kata.

Sabtu (22/5/2021) kemarin penduduk Kota Maxen memperingati hari kelahiran Raden Saleh di Rumah Biru.

Menurut Kedutaan Besar RI di Berlin, peringatan hari ulang tahun Raden Saleh ke-210 itu dimulai oleh Friedrich Anton Serre seorang Bangsawan Jerman.

“Hari ini Hari Indonesia. Di depan Rumah Biru ini kami memperingati kelahiran seorang pelukis Jawa 210 tahun lalu, namanya Raden Saleh, dan dia pernah menjadi bagian penting dari kota Maxen,” kata Jutta Tronicke, satu dari sejumlah warga Maxen yang aktif mempromosikan Raden Saleh di Jerman bersama KBRI.

Di depan bangunan itu dia menjelaskan, Raden Saleh datang ke kota itu pada 1839 dan berkawan baik dengan Friedrich Serre yang lantas membangun paviliun itu pada 1848 silam sebagai tanda penghormatan untuk Raden Saleh.

KBRI Berlin memberikan empat pohon apel yang ditanam di sepanjang jalan setapak menuju Rumah Biru yang berstatus cagar budaya dan dilindungi oleh Pemerintah Jerman.

Tujuannya untuk memperingati kelahiran Raden Saleh dan sebagai simbol penghormatan atas jasanya sebagai “Duta Budaya” Indonesia untuk Jerman pada abad ke-19.(ant/frh)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Mobil Terperosok di depan RSAL dr Ramelan A.Yani

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Surabaya
Selasa, 28 September 2021
32o
Kurs