Selasa, 7 Desember 2021

Tak Lagi Pasif, Pemkab Sidoarjo Jemput Pasien Isoman ke Isoter

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Petugas gabungan Forkopimda Sidoarjo menjemput pasien Isoman di salah satu daerah untuk dipindahkan ke Isoter. Foto: Istimewa

Untuk mencegah penyebaran Covid-19 klaster rumah tangga, Pemkab Sidoarjo akan segera secara aktif memindahkan warga yang sedang Isolasi mandiri (isoman) di rumah ke Isolasi terpusat.

Kesepakatan telah diambil dan diumumkan dalam Apel Gelar Pasukan Pemindahan Pasien Isoman ke Isoter di Mapolresta Sidoarjo, Rabu, (18/8/2021) sore kemarin.

Ahmad Muhdlor Ali Bupati Sidoarjo sebagai yang memimpin langsung apel gelar pasukan yang diikuti personel gabungan TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Kesehatan, Ormas, dan komunitas itu.

Bupati yang akrab disapa Gus Muhdlor itu menyampaikan kekhawatirannya soal warga yang sedang isoman di rumah akan menjadi sumber penyebaran klaster baru, di tengah keberadaan virus varian delta.

Dia mengingatkan, penyebar Covid-19 dengan adanya Virus Corona Varian Delta sangat cepat. Karenanya semua sumber yang berpotensi menyebarkan Covid-19 harus diantisipasi.

“Bayangkan ada rumah kecil sepetak berisi enam orang, kemudian salah satunya positif dan tidak diambil. Saya yakin enam-enamnya juga positif karena varian delta ini cukup cepat,” ujarnya.

Gus Muhdlor mengatakan, Pemkab Sidoarjo bersama Forkopimda akan segera melaksanakan penjemputan warga yang sedang Isoman. Masyarakat pun diminta tidak takut untuk pindah ke Isoter.

Gus Muhdlor menjamin, fasilitas yang tersedia sangat terjamin. Mulai dari makanan, pemenuhan gizi dan vitamin, juga tenaga kesehatan untuk memantau pemulihan pasien positif Covid-19.

“Bukan pasif seperti kemarin, kami akan bergerak aktif menjemput warga yang sedang melakukan Isoman. Ini yang mungkin masyarakat sedikit ketakutan, namun kami pastikan fasilitas yang ada (di Isoter) sangat mumpuni,” ujarnya.

Gus Muhdlor juga mengatakan pemindahan pasien Isoman ke Isoter akan menekan Case Fatality Rate (CFR) atau kasus angka kematian akibat Covid-19 akibat keterlambatan penanganan.

Banyak kejadian, seseorang datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya sudah dalam kondisi saturasi rendah bahkan bisa dikatakan datang dalam kondisi kritis.

“Ketika berada di Isoter, dengan adanya perawat dan nakes yang ada, maka hal-hal seperti itu bisa kita hindari,” kata Putra K.H. Agoes Ali Masyhuri Pengasuh Ponpes Bumi Shalawat itu.

Gus Muhdlor juga menekankan bahwa terjangkit Covid-19 bukan merupakan aib. Oleh karenanya seseorang yang positif Covid-19 lebih baik ke Isoter agar tidak menularkan virus ke keluarganya.

Saat ini, Pemkab Sidoarjo menyediakan sembilan tempat Isoter yang tersebar di berbagai lokasi di Sidoarjo dengan kapasitas total seluruh tempat isolasi mencapai 480 tempat tidur.

“Di tingkat kecamatan lewat Danramil, kapolsek serta camat, bertiga menjadi leading sektor di tingkat kecamatan akan melakukan penjemputan dan diarahkan ke Isoter terdekat. Datanya dari bidan desa atau lurah setempat,” ujarnya.(den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
26o
Kurs