Senin, 27 September 2021

Wali Kota Batu Akan Temui Pihak Sekolah SPI Soal Kasus Kekerasan Seksual

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Dewanti Rumpoko Wali Kota Batu pada saat memberikan keterangan kepada media, di Kota Batu, Jawa Timur, Senin (31/5/2021). Foto: Antara

Dewanti Rumpoko Wali Kota Batu akan menemui pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia (SPI) soal kasus dugaan kekerasan seksual terhadap puluhan siswa.

Dewanti mengatakan hingga saat ini pihaknya masih belum bisa bertemu dengan pihak sekolah SPI termasuk para korban yang telah melaporkan dugaan tindakan kekerasan seksual tersebut ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur.

“Sejauh mana kebenarannya, saya belum bisa bertemu dengan siapapun, termasuk dengan korban dan pihak sekolah,” kata Dewanti dilansir dari Antara, Senin (31/5/2021) malam.

Dia mengaku sudah sempat berkomunikasi dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) terkait laporan kejahatan luar biasa yang dilakukan oleh salah seorang pemilik sekolah SPI berinisial JE terhadap puluhan siswa.

Berdasarkan informasi yang diterima, saat ini, korban masih dalam perlindungan sehingga tidak bisa ditemui siapapun. Sementara untuk pihak sekolah menyatakan saat ini tengah melaksanakan kegiatan dinas di luar kota.

“Masih belum bisa ditemui, mudah-mudahan segera bisa dilakukan pertemuan dan melakukan komunikasi,” ujarnya.

Arist Merdeka Sirait Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), pada Sabtu (29/5/2021) melaporkan temuan adanya dugaan kejahatan luar biasa kepada Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur dengan mendampingi tiga orang siswa yang merupakan korban kekerasan dan diduga dilakukan oleh pemilik sekolah SPI di Kota Batu.

Pemilik sekolah tersebut, dituding melakukan kekerasan seksual, fisik, verbal, serta eksploitasi ekonomi terhadap belasan hingga puluhan siswa sekolah SPI Kota Batu.

Sebelumnya, Komnas PA mendapatkan laporan pada pekan lalu, dari salah seorang korban. Setelah itu, Komnas PA melakukan tindak lanjut dengan mengumpulkan keterangan lain dari siswa, dan alumni yang tersebar di Indonesia.

Berdasar catatan Komnas PA, setidaknya sudah ada 15 orang siswa yang mengaku menjadi korban kekerasan tersebut.(ant/frh)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Mobil Terperosok di depan RSAL dr Ramelan A.Yani

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Surabaya
Senin, 27 September 2021
33o
Kurs