Sabtu, 15 Mei 2021

Warga Indonesia Gencarkan Ikhtiar Wujudkan ‘Mimpi 20 Tahun’ Bangun Masjid Indonesia Pertama di London

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Caption : Rumah yangbakan dijual untuk pembangunan masjid pertama WNI di London. Foto: Istimewa

Bagi warga Indonesia di London, satu rumah di Wakemans Hill Avenue, London utara, bukan sekadar rumah.

Sejak 2003, rumah ini telah menjadi pusat kegiatan komunitas seperti pengajian pekanan, pendidikan Quran bagi anak-anak dan remaja, kajian tafsir, hingga tempat untuk kegiatan kesenian seperti rebana.

Rumah dua lantai ini biasa disebut Indonesian Islamic Centre (IIC). Ukurannya tidak terlalu besar, dan karenanya hanya bisa menampung maksimal 100 orang. Sangat jauh dari mencukupi. Namun inilah langkah awal untuk mewujudkan keinginan memiliki masjid sendiri yang representatif, yang punya corak dan penampakan fisik seperti masjid, bukan seperti rumah biasa.

“Saat ini fasilitas dan sarana yang ada rumah di Wakemans Hill Avenue tersebut memang sudah tidak memadai lagi,” ujar Eko Kurniawan, ketua panitia pembangunan IIC dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/5/2021).

Apalagi, properti di Wakemans Hill Avenue ini, terang Eko, berada di permukiman penduduk, sehingga izin yang diberikan sebatas rumah tinggal, bukan untuk aktivitas publik ataupun kegiatan komunitas.

“Konsekuensinya, kami tidak bisa menggunakan properti ini untuk kegiatan keumatan secara maksimal,” lanjut Eko.

Keterbatasan izin, sarana yang tidak memadai dan animo tinggi warga Indonesia dalam mengikuti kegiatan keagamaan, membuat sejumlah warga Indonesia akhirnya memutuskan membentuk panitia baru pembangunan masjid, dengan harapan bisa lebih cepat mewujudkan masjid yang representatif.

Rencananya, rumah yang selama ini menjadi pusat kegiatan warga Indonesia di Wakemans Hill Avenue akan dijual dan dana dari penjualan dipakai untuk membeli properti lain yang lebih representatif.

Dalam hitungan panitia, nilai jual properti ini sekitar £500.000. Panitia juga memiliki dana sekitar £250.000 yang didapat dari sumbangan warga, baik yang ada di Inggris, negara-negara lain, maupun di Indonesia.

“Dari posisi dana ini, setelah dihitung total anggaran belanja dikurangi dana IIC yang tersedia saat ini, maka dana yang diperlukan oleh panitia pembangunan masjid adalah antara £750.000 hingga £1,25 juta atau antara Rp14,2 miliar hingga Rp23,7 miliar,” jelas Eko.

Lokasi yang akan dibangun masjid oleh WNI di London. Foto: Istimewa

Eko dan panitia optimistis rencana membangun masjid Indonesia pertama di London bisa diwujudkan, apalagi rencana ini didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di London dan juga oleh Diaspora Indonesia.

Nantinya, Indonesian Islamic Centre di London akan memiliki masjid, ruang kelas, perpustakaan, dan unit usaha. Masjid ini akan dipakai sebagai tempat Salat lima waktu, salat Jumat, salat Idulfitri, dan salat Idul Adha.

Diharapkan juga, masjid ini dapat dipakai untuk menggelar kegiatan-kegiatan komunitas Indonesia seperti silaturahim akbar, yang biasanya diselenggarakan dua kali dalam satu tahun.

“Dalam rencana kami, masjid ini punya kapasitas sekitar 500 jemaah,” kata Eko.

Ruang kelas akan dimanfaatkan untuk pendidikan anak-anak & remaja, terutama untuk belajar Quran dan agama Islam. Menyediakan pendidikan agama menjadi tantangan tersendiri di Inggris. Diharapkan, keberadaan ruang kelas akan bisa menjadi semacam madrasah bagi anak-anak dan remaja Indonesia di London dan sekitarnya.

Untuk unit usaha seperti restoran halal, toserba, dan toko baju Muslim/Muslimah diharapkan bisa menjadi bagian dari pemasukan rutin dana pengelolaan atau operasional masjid.

Rencana pembangunan masjid ini disambut baik oleh Elvi Ibrahim, warga Indonesia di London. Ia mengungkapkan sudah sejak 1990-an komunitas Indonesia di Inggris ingin memiliki masjid.

“Saya masih ingat, pada bulan puasa sekitar 20 tahun yang lalu, beberapa anggota masyarakat Indonesia di London menggalang dana untuk membangun masjid,” kata Elvi.

Makanya, ia sangat berharap masjid ini bisa diwujudkan.

“Kami dulu membentuk panitia, nah para anggota panitia tersebut kini sudah beranjak tua. Kami berharap, dengan masuknya para anggota panitia yang baru, yang lebih muda, keinginan kami untuk memiliki masjid bisa segera terwujud,” tambah Elvi.

Hamim Syaaf, warga Indonesia yang sudah puluhan tahun menetap di London, mengatakan jumlah warga Indonesia di Inggris terus bertambah dan komunitas Indonesia ini dikenal aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan.

“Di sisi lain, kami dihadapkan pada persoalan tempat kegiatan. Kami jelas butuh tempat yang bisa mengakomodasi jumlah jemaah yang terus bertambah ini,” kata Hamim.

Ia menyadari pembangunan masjid ini memerlukan kerja keras. Namun, ia optimistis masjid Indonesia di London ini bisa diwujudkan.

“Ada komunitas Indonesia baik yang ada di Inggris, Eropa, dan Indonesia yang saya kira bisa membantu kami mewujudkan mimpi yang sudah kami rajut sejak beberapa dekade lalu,” kata Hamim. (faz/frh/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Wadungasri Macet

Kecelakaan di Gunungsari

Kecelakaan di Manyar Gresik

Truk Terguling, Solar Menggenangi Jalan

Surabaya
Sabtu, 15 Mei 2021
33o
Kurs