Kamis, 20 Januari 2022

WHO Tidak Rekomendasikan Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Senin (6/12/2021) tidak menyarankan penggunaan plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 untuk mengobati pasien yang sedang sakit.

WHO mengeluarkan rekomendasi ini berdasarkan bukti dari penelitian terbaru yang menunjukkan ternyata terapi tersebut tidak meningkatkan kelangsungan hidup, atau mengurangi kebutuhan akan ventilator.

Melansir Reuters, beberapa penelitian yang menguji plasma darah konvalesen tidak menunjukkan manfaat nyata untuk merawat pasien Covid-19 yang sakit parah. Bahkan uji coba yang berbasis di AS dihentikan pada bulan Maret, setelah ditemukan bahwa plasma tidak membantu penyembuhan pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang.

WHO juga menilai metode ini mahal dan makan waktu.

Rekomendasi yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) ini didasarkan pada bukti dari 16 uji coba yang melibatkan 16.236 pasien dengan infeksi Covid-19 yang tidak parah, parah, dan kritis.

Gatot Sugiarto, Konsultan Alergi dan Imunologi Klinis RSUD Dr Soetmomo menjelaskan bagaimana mulanya plasma konvalesen ini dijadikan sebagai terapi penyembuhan untuk pasien Covid-19.

Awalnya, ketika virus dengan nama SARS CoV 2 ini baru menyerang, para ahli tidak punya waktu yang cukup untuk menyiapkan senjata melawan virus tersebut.

“Sehingga segala macam upaya dicobakan. Untuk membuat vaksin perlu waktu, dari pengalaman yang sudah-sudah membuat vaksin butuh waktu 15 tahun lebih. Sekarang kita harus bekerja cepat untuk menolong pasien, karena kita tahu Corona ini virus rna maka kita melirik obat-obat lain yang tersedia untuk virus lain tapi sama sama rna-nya,” kata dokter Gatot saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Rabu (8/12/2021).

Lalu dari pengalaman yang sudah ada, Dokter Gatot melanjutkan penjelasannya, ditemukan bahwa di dalam tubuh para penyintas ada antibodi yang terkandung dalam plasma yang kemudian disebut dengan plasma konvalesen. Ini yang kemudian diujicobakan kepada pasien Covid-19 untuk terapi kesembuhan.

“WHO menginisiasi penelitian multi center yang disebut recovery trial. Beberapa obat diujicobakan dan dibuatkan dalam laporan tersendiri. Ada yang khusus obat influenza, ada juga yang khusus tentang plasma konvalesen. Ada peneliti lain yang ikut meneliti apakah plasma konvalesen bermanfaat atau tidak. Ternyata pemberian plasma konvalesen tidak mempengaruhi tingkat kematian dan lamanya dirawat di rumah sakit,” terangnya.

Penyebabnya, kata Dokter Gatot, dapat disimpulkan bahwa antibodi plasma konvalesen bekerja pada tahap dini, yaitu saat virus pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia dan belum menyerang sel organ sasaran.

“Kalau plasma konvalesen diberikan dalam kondisi terlambat, virus sudah masuk ke dalam sel. Virus tidak lagi berperang, tapi inflamasi yang ditimbulkan. Ternyata pemberian plasma konvalesen tidak ada manfaatnya,” ujar salah satu anggota tim Satgas Covid-19 Jatim ini.

Berasal dari berbagai macam uji klinis inilah kemudian WHO membuat Expert Committee on Biological Standardization, yang mengkaji semua hasil penelitian terkait plasma konvalesen.

“Badan ini kemudian memberi rekomendasi untuk WHO. Berdasarkan inilah kemudian WHO mengeluarkan guide line untuk Covid-19. Di situ disebutkan WHO tidak lagi menganjurkan plasma konvalesen karena nyatanya tidak memberi manfaat yang diharapkan,” pungkasnya.(dfn/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Kamis, 20 Januari 2022
29o
Kurs