Senin, 23 Mei 2022

Harta Karun, Air di Semburan Lapindo Juga Berpotensi Mengandung Lithium

Laporan oleh Restu Indah
Bagikan
Terlihat dari foto udara, asap membumbung tinggi yang terus menerus disertai semburan lumpur. Foto: Mamuk Mossaik Photo

Potensi temuan logam tanah jarang dan critical raw materials di lokasi Lumpur Lapindo harus didukung penelitian dengan tahapan yang lebih dalam, dan data yang lebih akurat.  Burhanuddin Nur Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyampaikan rekomendasi ini pada ESDM,  saat berbincang di Radio Suara Surabaya, pada Senin (21/1/2022) tentang temuan material langka di semburan Lumpur Sidoarjo.

Ekplorasi harus dilakukan dengan tahapan yang benar, agar tidak terjadi kesalahan.

“Ngebor sumur untuk mencari air saja ada kemungkinan gagal, padahal persepsi orang air itu ada dimana-mana, jadi kami bekerja harus berdasarkan data,

Menyoal tentang kenapa baru tahun ini ESDM mengeluarkan hasil dari penelitian, padahal semburan lumpur Lapindo sudah terjadi sejak 2016, kata Burhanudin ini bukan terlambat tapi sudah tepat dan wajar.

“Sebenarnya, sudah banyak riset yang dilakukan. Dan yang dilakukan ESDM bukan dari nol, penelitian merupakan pengembangan dari penelitian terdahulu ditambah perkembangan data yang muncul. Kajian-kajian akademik sudah dilakukan untuk meneliti kandungan lumpur, tapi ini memang butuh waktu yang panjang untuk mengambil data secara akurat,” tambahnya.

Apalagi, skala prioritas penangan lumpur tidak hanya soal kandungan semburan lumpur, melainkan penanganan dampaknya.

“Kapan temuan awal ini bisa berkembang ke tahap eksplorasi dan eksploitasi sangat tergantung dari penelitian lainnya, dan soal ketersediaan anggaran karena semua penelitian butuh anggaran. Kalo secara teknis bisa saja cepat, sesuai dengan kaidah kajian ilmiah ada data, ada dana, ijin sudah didapat mungkin hanya butuh waktu 1.5 tahun untuk mendapatkan kajian akhir. Bahkan bisa lebih cepat lagi kalau pemerintah memberikan akselerasi percepatan,” tambahnya.

Burhanuddin yang juga pernah terlibat dalam riset Lumpur Lapindo mengatakan kandungan litium tidak hanya ditemukan di materialnya tapi pada air yang muncul dalam semburan Lumpur Lapindo, dia berharap ada dukungan penuh dari pemerintah, sosial dan masyarakat untuk pemaksimalan eksplorasi logam tanah jarang.

Sebelumnya Eko Budi Lelono Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM dalam jumpa pers, Jumat (21/1/2022) mengatakan pihaknya telah melakukan kajian yang lebih rinci dan sistematis mengenai potensi logam tanah jarang di lumpur Lapindo, Sidoarjo. Kajian itu melanjutkan temuan pada survei umum pada tahun 2020.

Logam tanah jarang merupakan salah satu mineral yang menjadi perhatian dunia lantaran dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik.  Kandungan Lithium di lumpur Lapindo disebut memiliki kadar tinggi yakni 99,26-280,46 ppm, sementara Stronsium dengan kadar 255,44 – 650,49 ppm.

Selain itu, di dalam lumpur Lapindo juga terindikasi kandungan logam mineral kritis (CRM) yang jumlahnya lebih besar dibandingkan logam tanah jarang.

Potensi kandungan mineral dalam lumpur Lapindo ini secara keekonomiannya masih dalam tahap penyelidikan umum, sehingga perlu penyelidikan lebih lanjut agar data bisa lebih aktual.

Hasil penyelidikan awal kandungan lumpur Lapindo akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan target area untuk penyelidikan potensi lanjutan. Nantinya, studi karakterisasi dan ekstraksi Lithium serta Stronsium di lumpur Lapindo akan dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang tekMIRA), sebuah unit kerja di bawah Kementerian ESDM. (rst)

 

 

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
29o
Kurs