Senin, 23 Mei 2022

Kandungan Logam dari Lumpur Sidoarjo Harus Bisa Dimanfaatkan untuk Kepentingan Nasional

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Semburan lumpur Lapindo. Foto: dok suarasurabaya.net

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih melakukan penelitian lanjutan terhadap kandungan mineral logam dari lumpur yang sudah belasan tahun menyembur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Eko Budi Lelono Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan, yang banyak terkandung di lumpur Sidoarjo adalah Mineral Kritis (Critical Raw Material), yaitu Litium dan Stronsium.

Studi lanjutan terhadap kandungan logam lumpur Sidoarjo dilakukan Badan Geologi bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Puslitbang tekMira).

Selain itu, pihaknya juga akan melibatkan sejumlah institusi penelitian lain, baik dari dalam mau pun luar negeri.

Karena ada nilai ekonominya, dia berharap Indonesia bisa mengolah dan memaksimalkan potensi sumber mineral berdasarkan hasil kajian ilmiah.

Tapi, Eko Budi Lelono menjelaskan, data potensi mineral ekonomis dari lumpur Sidoarjo yang ada sekarang belum akurat.

Karena, masih menggunakan hasil penyelidikan tahap awal yang belum detail, dan sampelnya terbatas dari kedalaman dangkal sekitar lima meter.

Sehingga, masih diperlukan studi kelayakan lebih lanjut terkait nilai keekonomiannya.

“Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan critical raw material untuk kepentingan nasional secara maksimal. Hal itu sejalan dengan kebijakan pemerintah melakukan hilirisasi pengolahan dan meningkatkan nilai tambah mineral supaya ada efek berganda (multiplier effect) dari kegiatan ekonomi,” ujarnya kepada suarasurabaya, Minggu (23/1/2022).

Kepala Geologi menyebut, Litium umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai listrik. Sementara Stronsium untuk bahan baku industri elektronik, dan bisa juga dipakai untuk berbagai inovasi berteknologi tinggi.

Nilai ekonomi Litium sangat tinggi terutama sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Menurutnya, Indonesia perlu memiliki stok Litium sebagai bahan baku baterai. Apalagi, pemerintah tengah berencana membangun industri kendaraan listrik.(rid/tin)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
30o
Kurs