Rabu, 1 Februari 2023

Kolaborasi Sidoarjo-Surabaya Mengatasi Bau Sampah di TPA Benowo

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Penyemprotan cairan Eco Lindi untuk meminimalisir bau sampah di TPA Benowo, Kamis (15/9/2022). Foto: tangkapan layar video kiriman DLH Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkolaborasi mengatasi bau sampah yang berasal dari TPA Benowo, selama penyelenggaraan pertandingan Kualifikasi Grup F Piala AFC U-20.

Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mengatakan, cairan organik mikro organisme generasi keenam (EM 6) yang selama ini digunakan untuk meminimalisir bau sampah ternyata kurang efektif.

“Masih ada bau sengkring-sengkring-nya sehingga kenyamanan sedikit terganggu walaupun baunya sudah jauh berkurang. Titik yang di dalam Gelora Bung Tomo (GBT) sudah nihil. Titik di jalan masuk yang agak bau, ini kami upayakan besok saat pertandingan sejak pukul 12.00 bisa nihil baunya,” ujarnya dihubungi Radio Suara Surabaya, Kamis (15/9/2022).

Oleh karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Sebanyak 30 ribu liter cairan pengeliminir bau dari DLHK Sidoarjo disemprotkan di TPA Benowo dari Kamis pagi.

“Progresnya ternyata aman. Kami cek per jam 15.00 WIB sudah nihil baunya. Nanti mungkin kalau ada sampah baru lagi yang masuk akan disemprot lagi. Mudah-mudahan selama pertandingan AFC aman,” imbuhnya.

Hebi menambahkan, penyemprotan untuk menghilangkan bau khusus buat sampah yang baru masuk TPA Benowo.

Sementara itu, Bahrul Amig Kepala DLHK Kabupaten Sidoarjo mengatakan, formula yang disebut sebagai cairan Eco Lindi sudah diterapkan di TPA Jabon Sidoarjo.

“Saya bisa menyatakan 10 bulan terakhir TPA Jabon zero complain dari warga akibat baunya yang menyengat. Hasil laboratorium juga aman, memenuhi baku mutu yang ditetapkan dan Sidoarjo relatif tidak ada keluhan dari warga terkait bau,” kata Amig kepada Suara Surabaya.

Terkait cairan Eco Lindi yang disemprotkan di TPA Benowo, Amig menjelaskan, dia membuat sebanyak 3 ribu liter Eco Lindi sebagai biang yang kemudian diolah bersama DLH Surabaya untuk disemprotkan.

“Bareng-bareng kami bikin, kami tunjukkan caranya membuat, kemudian disaksikan dalam hitungan menit sudah nggak berbau,” katanya.

Dia melanjutkan, pembuatan Eco Lindi ini tidak sama seperti membuat cairan Eco Enzim, atau EM 6 dan EM 4. Dalam formula Eco Lindi, Amig menyebut, bukan hanya mikroba yang berperan tapi juga katalis organik yang lebih spesifik.

Cairan Eco Lindi merupakan buah karya pemikiran Amig dan anaknya yang masih berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Bahkan, karya itu sudah diapresiasi Ahmad Muhdlor Ali Bupati Sidoarjo.

“Saya sering keliling TPA, dan rata-rata keluhannya adalah bau. Kemudian, kami diskusi yang berkelanjutan, Alhamdulillah menemukan formula dengan komposisi dari air lindi itu sendiri ditambah molase atau tetes tebu, dikasih asam sulfat, ada unsur spesifik katalis organiknya. Alhamdulillah itu sangat efektif menetralkan bau sampah, rata-rata 3-5 menit baunya sudah jauh berkurang,” jelasnya.

Amig menyebut, Eco Lindi sedang dalam proses pendaftaran supaya bisa segera dipatenkan dan diproduksi massal dengan harga terjangkau.

“Semoga ke depannya bisa berguna untuk masyarakat, terutama menyangkut limbah yang menimbulkan bau seperti di peternakan, tumpukan sampah yang cepat menimbukan bau tidak nyaman,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Surabaya menjadi tuan rumah pertandingan Kualifikasi Grup F Piala AFC U-20 di GBT yang berlangsung mulai 14-18 September 2022.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Surabaya adalah bau sampah dari TPA Benowo. Untuk meminimalisir bau, Pemkot Surabaya menerapkan sejumlah metode manajemen pengelolaan sampah di TPA Benowo.

Antara lain penyemprotan mikro organisme EM6, menutup seluruh TPA Benowo menggunakan geomembran, dan buffer zone.(dfn/rid)

Berita Terkait