Rabu, 1 Februari 2023

Hilangkan Bau, Pemkot Surabaya Pasang Membran di TPA Benowo

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya dan Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya. Foto: Diskominfo Kota Surabaya

Proses pemasangan membran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo untuk menghilangkan bau sudah berjalan 85 persen. Rencananya, Pemkot Surabaya akan merampungkan seluruhnya, pada akhir Agustus 2022.

Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengatakan, tidak hanya menutup seluruh TPA menggunakan membran. Tapi DLH Juga menanam 4000 bambu serta 3000 pohon jenis lain.

“TPA Benowo seluas kurang lebih 37 hektar itu kita tutup seluruhnya menggunakan membran. Karena angin di Benowo itu kencang, kemarin membuat sebagian membrannya terbuka selain itu juga karena ada penataan,” kata Hebi, Kamis (25/8/2022) malam.

Menurutnya, pohon bambu dipilih karena dirasa lebih kuat untuk menahan dan menghalau bau serta polusi udara dari TPA Benowo. Selain itu, tumbuhan akar serabut itu juga dapat tumbuh dengan baik di TPA Benowo.

“Kalau bambu itu kan akarnya tumbuh merambat ke samping, nggak sampai ke dalam. Kalau pohon jenis lain akarnya masuk ke dalam, nah kalau itu (akar) menyerap air sampah akan mati, makannya kemarin kenapa menanamnya pakai media tanah dan bis beton,” jelas Hebi.

Meski sejauh ini sudah terbilang berhasil, namun beberapa waktu lalu sempat tercium bau sampah di sekitar TPA Benowo. Hebi mengungkapkan, itu karena ada penataan sampah. “Sebenarnya sudah tidak bau kalau pengelolaannya bagus, kemarin bocor karena penataan sampahnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya meminta ada petugas DLH yang mengawasi TPA Benowo serta memastikan penyemprotan zat kimia untuk mengurangi bau, terus berjalan.

“Saya ingin semuanya tertutup seluruhnya dengan membran. Kemudian menempatkan petugas DLH untuk mengawasi TPA Benowo dan memastikan penyemprotan zat kimia berjalan. Harusnya nggak bau. Lek sik mambu, yo berarti pengawasane sing kurang (kalau masih bau berarti pengawasannya kurang),” kata Eri saat sidak TPA Benowo, Kamis malam kemarin.

Eri menjelaskan, treatment itu sudah menjadi bagian dari prosedur perjanjian pihak ketiga yang mengelola sampah TPA Benowo. Maka, DLH wajib melakukan pengawasan ketat agar hasilnya maksimal.

Ia juga meminta DLH untuk menambah buffer zone berupa tanaman pohon bambu di sekitar TPA Benowo yang saat ini sudah ada. Tujuannya, mengurangi polusi udara serta zat kimia yang disemprotkan oleh pihak ketiga.

“Sebenarnya sudah ada lima pohon, tapi masih kurang. Saya inginnya 10 sampai 15 agar lebih rapet, jadi setiap bis beton itu penuh untuk menghalau baunya, sekaligus mengurangi polusi dan zat kimia yang disemprotkan. Tiga hari lagi saya ke sini untuk cek lagi,” harapnya. (lta/bil/ipg)

Berita Terkait