Senin, 23 Mei 2022

Lolos Evaluasi, PTM 100 Persen di Surabaya Lanjut Terus

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Ilustrasi, Simulasi PTM. Foto: Humas Pemkot Surabaya

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, dan SMP di Kota Surabaya sudah berjalan selama sepekan. Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya bersama sejumlah pakar menggelar evaluasi terhadap PTM 100 persen itu di kantor Dispendik Surabaya, Selasa (18/1/2022). Hasilnya, sepakat PTM 100 Persen di Surabaya bisa terus dilanjutkan.

Hadir dalam pertemuan itu dr. Windhu Purnomo Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) , Estiningtyas Nugraheni Pembina Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jawa Timur (Jatim) , dan dr. Dominicus Husada. dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim 

 Yusuf Masruh  Kepala Dispendik Kota Surabaya mengatakan PTM 100 persen tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Saat ini, belum ada laporan warga sekolah yang terpapar Covid-19 di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, pihaknya secara berkala akan melakukan evaluasi bersama pakar epidemiologi, pakar kesehatan masyarakat, IDAI, serta guru dan tenaga kependidikan (GTK).

“Kami ingin orang tua merasa aman dan nyaman ketika menitipkan anak-anak di sekolah. Ini ikhtiar kami bersama untuk memberi layanan terbaik bagi anak-anak di Kota Surabaya,” kata Yusuf.

 dr. Dominicus Husada Bidang Pengembangan, Penelitian & Pendidikan IDAI Jatim mengatakan, kebijakan PTM ini tetap dapat dijalankan di Kota Surabaya dengan kehati-hatian. Pihaknya belum melihat alasan yang cukup untuk memberi masukan agar PTM dihentikan. “Kalau kasusnya melonjak, baru kita lakukan evaluasi kembali,” tegasnya.

dr. Windhu Purnomo Pakar Epidemiologi Unair menjelaskan, sejauh ini Indonesia tampak bagus dalam menghadapi Covid-19 Varian Omicron. Pasalnya, di negara-negara lain, puncak kasus terjadi pada 40 hari sejak kasus pertama ditemukan. Hal itu terjadi di negara-negara Afrika, Inggris, Amerika Serikat, dan lain-lain.

“Sedangkan di Indonesia, kasus pertama ditemukan pada pertengahan Desember. Seharusnya sekarang ini prediksi puncaknya. Tapi sekarang masih di bawah ambang batas bahaya. Jadi, kita tidak usah khawatir dengan Omicron, karena ini sudah seperti influenza biasa,” urainya.

Estiningtyas Nugraheni Pembina Persakmi Jatim menyarankan kepada Dispendik Surabaya untuk mengusulkan revitalisasi revitalisasi Kampung Tangguh dan Kampung Wani Jogo Suroboyo sesuai dengan kondisi terkini dalam mendukung PTM. Hal ini dapat membantu mensterilkan lingkungan sekolah dari para pedagang yang dilarang berjualan selama PTM berlangsung.

Selain itu, setiap lembaga pendidikan harus memiliki penanggung jawab dan standar yang jelas untuk pelaksanaan PTM 100 persen. “Yang paling penting menerapkan 3M dan tidak ada kerumunan. Kemudian ada Satgas Covid-19 dari unsur sekolah, RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan di mana lembaga pendidikan itu ada. Ini penting untuk membantu sterilisasi lingkungan sekolah,” jelasnya.

 Nanik Sukristina Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengatakan pihaknya terus memonitor pelaksanaan PTM di Kota Surabaya. Bahkan, ia memastikan timnya selalu melakukan monitoring tenang protokol kesehatan yang dijalankan di sekolah-sekolah yang melakukan PTM itu.

“Alhamdulillah belum ada penularan untuk anak-anak kita, semoga tidak ada terus,” pungkasnya. (man/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
30o
Kurs