Kamis, 11 Agustus 2022

UK Petra Kembangkan Urban Farming Berbasis IoT, Penyiraman Tanaman Dipantau Lewat Gadget

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Yeka dan Greg menjelaskan cara kerja aplikasi kepada kelompok tani wanita SERPIS, soal penyiraman tanaman dipantau lewat gadget. Foto: Humas UK Petra

Dua mahasiswa program studi (prodi) Teknik Elektro UK Petra sukses mengembangkan Teknologi Urban Farming berbasis Internet of Things (IoT) di Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Wanita Serpis. Mereka membuat program penyiraman tanaman secara otomatis yang dapat dikontrol lewat gadget android.

Kegiatan para mahasiswa ini merupakan bagian dari LEAP (Leadership Enhancement Program) yang merupakan aplikasi dari MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) di kampus UK Petra.

Adalah Sih Kawuryan Yulianes Kufa dan Gregorio Diovani Wahanie, dua mahasiswa UK Petra Surabaya angkatan 2018 yang membuat proyek sistem penyiraman tanaman secara otomatis, pengkabutan ruang greenhouse serta pendeteksi kadar air pada bak hidroponik bertenaga surya yang dapat dimonitor dan dikontrol secara jarak jauh.

“Jadi bisa dikontrol menggunakan gadget android,” terang Dr. Ing. Indar Sugiarto, S.T., M.Sc., dosen pembimbing lapangan keduanya, Kamis (20/1/2022).

Berlokasi di jalan Jemursari V lapangan Fasum Belakang SMAN 10 Jemurwonosari, Wonocolo, Surabaya para mahasiswa UK Petra mengerjakan proyek ini selama lima bulan. Terhitung sejak bulan Agustus hingga Desember 2021. Kebun bernama SERPIS Kebun Kita itu memiliki luas sekitar 27 x 10 meter yang di dalamnya terdapat media bercocok tanam organik seluas 6 x 4 meter, dengan dua bangunan greenhouse untuk media tanam hidroponik dengan masing-masing luasannya 5,6 x 8 meter dan 4 x 8 meter.

Berbekal bantuan dana dari kampus sejumlah Rp10 juta, para mahasiswa kemudian melakukan berbagai uji coba. Sebelumnya mereka juga melakukan survei terlebih dahulu sehingga karya yang mereka sesuai dengan kebutuhan.

Sih Kawuryan Yulianes Kufa atau yang akrab dipanggil Yeka merinci totalnya membuat lima rancang bangun sistem dan website. Lima rancang bangun sistem itu terdir dari satu Sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), satu Sistem Penyiraman Tanaman Media Tanah Automatis, Sistem Pengkabutan serta Pendeteksi Kadar Air pada Bak Hidroponik untuk dua Ruang Greenhouse dan sebuah Aplikasi SERPIS berbasis Android sebagai dashboard kontrol dan monitor sistem.

“Kelompok kami menemukan masalah utamanya terletak pada kesulitan mengukur suhu yang tepat dalam ruang greenhouse agar tanaman hidroponik itu tidak cepat rusak serta lokasinya yang jauh dari rumah,” urai Yeka.

Yeka dan Gregorio memanfaatkan dua unit panel tenaga surya yang sudah ada, dengan pemrogaman maka penyemprotan dan pengukuran kelembapan tanah bisa dijalankan secara otomatis.

“Sehingga jika alat mendeteksi tanah kering maka secara otomatis air akan keluar dan menyirami tanaman hidroponik itu. Dan semuanya itu bisa dikontrol melalui aplikasi yang dinamai SERPIS dengan menggunakan bahasa pemrogaman Java,” tambah Gregorio.

Penamaan aplikasi memang sengaja dibuat sesuai dengan nama asli komunitas ini yaitu SERPIS, yang merupakan sebuah dashboard bagi pengurus komunitas untuk melakukan monitoring dan kontrol sistem penyiraman otomatis serta sistem pengkabutan.

Tidak hanya itu saja, website yang telah dibuat oleh Yeka dan tim ini berencana akan dijadikan e-commerce (market place) supaya produk-produk dari KRPL SERPIS bisa dijual secara online.(tok/dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Kecelakaan Truk Terguling di KM 750 Tol Waru

Surabaya
Kamis, 11 Agustus 2022
26o
Kurs