Sabtu, 24 Februari 2024

DPR dan KLHK akan Bentuk Panitia Kerja Mengatasi Masalah Polusi Udara di Jakarta

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Ilustrasi, polusi udara membuat gedung-gedung bertingkat di Jakarta tampak samar dari kejauhan. Foto: Antara

Buruknya kualitas udara akibat polusi di wilayah DKI Jakarta mendapat perhatian serius DPR RI.

Sudin Ketua Komisi IV DPR RI mengatakan, komisinya akan membentuk panitia kerja (panja).

Menurutnya, panja akan melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) selaku mitra kerja Komisi IV DPR RI.

Panja yang bertujuan mencari solusi permasalahan udara di ibu kota, rencananya dibentuk pekan depan dalam forum rapat kerja.

“Nanti panja itu kami umumkan waktu rapat kerja dengan Kementerian LHK. Rencananya minggu depan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/8/2023).

Legislator dari PDI Perjuangan itu bilang, persoalan kualitas udara bukan cuma tanggung jawab KLHK.

Dia menambahkan, pemberlakuan sistem bekerja dari rumah (work from home) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) wilayah Jabodetabek merupakan upaya jangka pendek.

Sudin menekankan perlunya solusi jangka panjang untuk mengatasi polusi udara yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“WFH kalau cuma dua bulan kan bukan langkah jangka panjang. Itu kan hanya sekadar sementara. Yang kami pikirkan jangka panjang,” katanya.

Sekadar informasi, Tito Karnavian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sudah menginstruksikan ASN di wilayah Jabodetabek menerapkan sistem bekerja dari rumah untuk mengurangi kadar polusi udara.

Kebijakan itu ada dalam Instruksi Mendagri Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengendalian Pencemaran Udara pada Wilayah Jabodetabek.

Intruksi Mendagri tersebut mulai berlaku tanggal 22 Agustus 2023 sampai waktu yang ditentukan berdasarkan hasil evaluasi.

Sebelumnya, Jakarta mendapat predikat sebagai kota paling berpolusi di dunia.

Merujuk data IQAir, Minggu (13/8/2023), indeks kualitas udara di Jakarta mencapai 172, dengan polutan utama PM 2,5, serta nilai konsentrasi 96,8 mikrogram per meter kubik.

Perusahaan teknologi kualitas udara berbasis di Swiss itu menyatakan, grafik kualitas udara Kota Jakarta konsisten di posisi 10 besar paling tercemar dari bulan Mei 2023.

Data kualitas udara Jakarta berasal dari 21 kontributor, di antaranya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geo Fisika (BMKG), Purpleair, dan PT Barito Pacific.(rid/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Sabtu, 24 Februari 2024
27o
Kurs