Minggu, 21 April 2024

Mahasiswa Ubaya Cegah Kekerasan Seksual pada Anak melalui Inovasi Board Game

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Dua mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) membuat board game “Safety Seeker: The Great Adventure” sebagai upaya memberi edukasi pada anak Sekolah Dasar (SD) tentang pencegahan kekerasan seksual. Foto: Ubaya

Cherlyn Gabriella Tandri dan Carolyn Angelic dua mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) membuat board game “Safety Seeker: The Great Adventure” sebagai upaya memberi edukasi pada anak Sekolah Dasar (SD) tentang pencegahan kekerasan seksual.

Cherlyn mengatakan, pembuatan board game tersebut dilatarbelakangi oleh data yang menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual banyak terjadi pada anak berusia 6-12 tahun.

“Anak rawan menjadi korban karena dianggap lemah dan tidak berdaya. Ditambah, di Indonesia topik mengenai seksualitas cenderung dihindari karena tabu. Sehingga, guru sering kali mengalami kesulitan dalam memberikan pendidikan seksual pada anak karena keterbatasan bahasa dan materi yang dimiliki. Oleh karena itu, kami membuat ini untuk membantu memberikan pemahaman tentang underwear rules atau panduan untuk menjelaskan pendidikan seks secara sederhana,” ucapnya dalam keterangan yang diterima suarasuarbaya.net, Senin (21/8/2023).

Dalam permainan itu, kata dia, mengusung tema adventure karena menurutnya, materi mengenai kekerasan seksual merupakan materi yang belum familiar bagi anak, sehingga perlu dikemas dengan tema yang menarik.

“Konsep board game dipilih karena dinilai merupakan salah satu media pembelajaran yang relevan serta dapat menarik perhatian anak,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa inovasi game tersebut dapat dimainkan oleh minimal dua anak dengan didampingi orang dewasa. Permainan terdiri dari board game, pion, dadu mata empat, serta kartu pertanyaan.

Cara bermainnya yakni setiap anak melempar dadu untuk menentukan arah pion. Tiap langkahnya, anak akan mengambil satu kartu dari dua tumpukan kartu yakni merah dan biru.

“Dalam tumpukan kartu ada pertanyaan benar atau salah dan pertanyaan terbuka. Anak akan dibimbing oleh orang yang lebih dewasa seperti guru atau orang tua untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Materinya dapat dibaca pada kertas instruksi yang telah disediakan,” jelasnya.

Dalam pembuatan board game itu, lanjut Carolyn, memerlukan waktu selama sepuluh bulan. Kesulitan yang dialami ada pada penyesuaian bahasa. Meskipun begitu, mereka mendapat bantuan dari tiga orang ahli dalam bidang psikologi sosial dan perkembangan anak yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Ubaya.

Saat ini, dua karya mahasiswa Ubaya itu diproduksi untuk digunakan di Laboratorium Psikologi Umum Ubaya. Selain itu, juga telah dilirik oleh dua sekolah di Jawa Timur.

“Ke depannya, board game ini akan coba kami kembangkan secara lebih spesifik sesuai kebutuhan anak. Harapannya dapat dipakai secara luas oleh anak-anak di Indonesia,” pungkasnya. (ris/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Surabaya
Minggu, 21 April 2024
27o
Kurs