Rabu, 28 Februari 2024

Setahun Mengudara, Radio Braille Surabaya Gencarkan Sosialisasi Hak Disabilitas di Pemilu 2024

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Tutus Setyawan Pemred Radio Braille Surabaya waktu mendengarkan pemaparan Eddy Prastyo Pemred Suara Surabaya dalam acara ulang tahun RBS di Suara Surabaya Center, Minggu (3/12/2023). Foto: Yustito suarasurabaya.net

Tepat setahun berjalan sejak resmi diluncurkan pada 3 Desember 2022 silam, Radio Braile Surabaya (RBS) yang digagas oleh kelompok penyandang tunatetra terus berkembang menyebarkan informasi, khususnya kepada penyandang disabilitas soal hak-hak mereka.

Dalam perayaan hari ulang tahun pertamanya, Minggu (3/12/2023) hari ini, yang bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2023, RBS bersama dengan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya menggelar diskusi ringan di Suara Surabaya Center bertajuk “Disabilitas Dalam Bingkai Media dan Pemilu.

Tutus Setyawan, Pimpinan Redaksi (Pimred) RBS mengatakan kalau diskusi itu juga menjadi bahan untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan RBS dalam setahun belakang, serta gambaran ke depan.

“Kami berharap dengan pertemuan di Suara Surabaya Center ini bisa memberikan inspirasi baru bagi Radio Braille Surabaya kedepannya akan menjadi media yang lebih inklusif, media yang bisa memberikan advokasi bagi teman-teman disabilitas,” ujarnya waktu mengudara di Radio Suara Surabaya di sela-sela acara.

Adapun berbagai segmen yang ada di RBS, meliputi yang pertama program Disabilitas Mencari Informasi (Dimensi), dimana reporter dari RBS mengumpulkan data langsung di lapangan yang setahun ini kebanyakan masih berfokus ke tunanetra.

Kedua, program Buka Mata yang berbentuk podcast dengan tokoh-tokoh ternama yang ada hubungannya dengan isu dan fenomena tentang disabilitas. Selanjutnya ketiga, program Sorot yang mengecek akses suatu tempat untuk disabilitas. Adapun semua program tersebut tayang melalui platform Youtube resmi @radiobrailesurabaya.

“Sejauh ini respon mereka (pendengar/pengakses) positif, karena pendengar yang disasar non dan disabilitas sendiri. Respon positif tidak hanya di kolom komentar, tapi diluar itu, kenalan kami dan lain-lain,” ujarnya.

Selanjutnya memasuki tahun politik, katanya, pihaknya akan lebih concern menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi.

Menurutnya, selama ini masih belum ada sosialisasi dari KPU terkait bagaimana disabilitas mengadapi Pemilu 2024, mulai dari akses hingga fasilitasnya. Oleh karena itu, dalam diskusi di Suara Surabaya Center hari ini, RBS turut mengundang perwakilan KPU Surabaya hingga Jatim.

“Jadi kami ingin mensosialisasikan kepada KPU bahwa disabilitas ini adalah bagian warga Indonesia yang berhak memiliki kesempatan untuk memilih. Tetapi akses kami untuk memperoleh informasi itu sangat-sangat kecil. Dengan adanya sosialisasi ini kami berharap bisa memberikan warna bagi disabilitas khususnya tunanetra bagaimana sih pemilu ke depannya,” ujar Tutus.

Eben Haezer Ketua Aliansi Jurnalis Surabaya Surabaya (kiri) bersama Tutus Setyawan Pemimpin Redaksi Radio Braille Surabaya (RBS) dalam sesi potong tumpeng ulang tahun RBS di Suara Surabaya Center, Minggu (3/12/2023). Foto: Billy suarasurabaya.net

Rencana Kedepan RBS dari AJI Surabaya

Sebagai informasi, dalam diskusi tersebut hadir Eben Haezer Ketua AJI Surabaya, Eddy Prastyo Pemimpin Redaksi (Pemred) Suara Surabaya, serta relawan Press Mahasiswa (Pressma) Surabaya dan beberapa perwakilan media anggota AJI Surabaya.

Eben dalam kesempatan itu turut menjelaskan, mengelola media untuk terus konsisten bukan seperti sistem kebut semalam. Bisa bertahan setahun dua tahun, kata dia, merupakan hal luar biasa. Apalagi untuk media seperti RBS yang butuh energi besar.

Untuk itu, AJI yang dalam setahun belakang selalu memberikan support, ke depan akan memberikan porsi lebih dalam pelatihan jurnalistik kepada para personel RBS. Termasuk kolaborasi dengan komunitas selain disabilitas juga akan digalakkan.

“RBS ini hidupnya harus berkolaborasi karena kalau nggak itu ya susah gitu. Sehingga yang ke depan, tahun kedua ini kita ingin menggalakkan kolaborasi-kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar dengan ya bahkan mungkin dengan pemerintah agar mereka semakin berdampak, itu yang akan kita kejarkan tahun kedua,” jelasnya.

Ketua AJI Surabaya itu juga menjelaskan, sebagian besar personel RBS merupakan tenaga pendidik, yang artinya tidak bisa memberikan waktunya 100 persen. Sehingga, akan ada keterlibatan AJI untuk memberikan pendampingan lebih.

“Misalnya butuh editing, aji kita punya orang-orang yang bisa bantu editing, kalau untuk liputan, umumnya mereka sudah bisa jalan sendiri tapi untuk liputan-liputan yang lebih luas, misalkan isu-isu yang di luar biasa kritis itu kita lakukan pendampingan,” jelasnya.

Eddy Prastyo Pemimpin Redaksi (Pemred) Suara Surabaya pada kesempatan itu juga menyebutkan harapannya, agar konten-konten edukatif ke depan di RBS makin diperbanyak.

Dia mencontohkan program Muda Luar Biasa Suara Surabaya yang tak hanya diisi generasi muda sebagai narasumber, melaikan ada profesional yang mengangkat isu kepemudaan justru lebih banyak dapat atensi generasi milenial dan generasi Z.

“Usahakan temen-temen RBS bukan hanya disabilitas yang mengisi (program), tapi juga profesional yang punya idelogi clear soal disabilitas diberi ruang. Supaya teman-teman disabilitas yang punya warna berbicara atas nama disabilitas,” ujarnya. (bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Rabu, 28 Februari 2024
26o
Kurs