Menurut Ita, kostum yang dikenakan pun disesuaikan dengan peran yang dimainkan.
“Kebaya yang kami pakai adalah kebaya sederhana, bukan brokat atau berpayet. Zaman dulu kebaya mewah hanya milik kaum bangsawan, sedangkan perempuan dapur umum berasal dari kalangan rakyat biasa,” jelasnya.
Dalam aksi tersebut, Tim LD PWI Jatim dan PARFI membagikan berbagai hidangan tradisional seperti singkong, ketela pohon, kacang tanah, dan pisang kukus. Semua disajikan dengan cara tradisional dibungkus daun pisang, seperti yang dilakukan masyarakat tempo dulu saat menyiapkan makanan untuk para pejuang.
“Selain mengenang sejarah, kami juga ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong, kebersamaan yang dulu menjadi kekuatan bangsa, dan makanan sederhana ini kami bagikan bukan hanya sebagai simbol perjuangan, tapi juga sebagai wujud cinta pada tanah air.” Tutur Ita
Wira Lina sebagai Mbok Dar Ketua PARFI Jatim, mengaku sangat senang bisa ikut serta dalam kegiatan penuh makna itu. Dia merasa pengalaman tersebut memberinya kesempatan memahami lebih dalam peran besar perempuan di balik perjuangan kemerdekaan.
“Rasanya haru sekali bisa ikut membagikan makanan sambil mengenakan kebaya sederhana seperti ibu-ibu jaman dulu. Ini bukan sekadar tampil, tapi mengenang perjuangan mereka,” katanya. (mas/rid)
NOW ON AIR SSFM 100

