Sebanyak 129 penumpang KM Virgo Transport 8 yang masih dalam pencarian atau belum diketahui keberadaan dan statusnya hingga Senin (14/9/2026) pagi. Kapal itu mengalami kebocoran, hingga dikabarkan terbalik di Laut Jawa dekat perairan Banjarmasin.
Nanang Sigit Kepala Kantor SAR Surabaya mengatakan, dari total sementara 243 orang di kapal, sebanyak 108 orang ditemukan selamat dan enam orang meninggal dunia.
“Kondisi-kondisi saat ini dari korban (penumpang) yang ada 243 orang, 108 sudah ditemukan selamat, enam meninggal dunia, dan 129 dalam pencarian ya. Dan ini ini juga data yang belum fix ya, kami hanya me-release informasi yang dari koordinator di Banjarmasin. Karena tentunya berbeda jam nanti bisa berubah untuk jumlahnya,” kata Nanang saat on air di Wawasan Suara Surabaya, Senin (14/9/2026) pagi.
Data korban masih terus bergerak karena sebagian korban yang sudah ditemukan masih berada di beberapa kapal penolong dan belum seluruhnya ditransfer ke Banjarmasin.
Ia menyebut sedikitnya empat kapal telah terkonfirmasi membawa korban, termasuk kapal-kapal Pertamina. Para korban selanjutnya diarahkan menuju Dermaga Basirih, Banjarmasin.
Basarnas juga menelusuri kemungkinan adanya korban yang diselamatkan kapal nelayan, tapi belum tercatat dalam data resmi.
“Kami juga dari Kantor Satuan Surabaya juga berkoordinasi dengan para nelayan di wilayah Lamongan, Tuban, Gresik seperti itu. Barangkali memang ada yang terbawa ke sana dari nelayan yang mungkin menemukan seperti itu,” ujarnya.
Kemungkinan itu menguat, setelah Kapal Cahaya Bahari asal Tuban dilaporkan membawa sekitar 22 orang dalam kondisi selamat. Nanang meminta nelayan yang memiliki informasi terkait korban Virgo Transport 8 segera melapor ke Kantor SAR Surabaya atau polsek terdekat di lokasi mereka bersandar.
“Karena kapal nelayan kan biasanya tidak ada alat komunikasi ya. Kadang banyak seperti itu. Itu yang kita harapkan seperti itu. Mereka terbawa ke nelayan dan masih kondisi selamat seperti itu,” katanya.
Operasi pencarian saat ini dibagi menjadi enam sektor, dengan luas area sekitar 1.600 mil laut persegi. Pencarian tak hanya dilakukan di jalur laut, tetapi juga udara menggunakan tiga pesawat, termasuk helikopter HR-3601 yang diberangkatkan dari Surabaya, pesawat dari Mabes, serta pesawat BNPB.
Dari Surabaya, Basarnas mengerahkan KN SAR Permadi 249 yang telah tiba di area pencarian sejak Minggu malam, serta helikopter HR-3601 yang dilengkapi peralatan untuk mengevakuasi korban dari udara. Unsur TNI AL dari wilayah Surabaya juga turut dikerahkan, yakni KRI Nala, KRI Pulau Rani, dan KRI Clurit.
Kantor SAR Surabaya juga membuka posko pengaduan dan informasi di Tanjung Perak karena KM Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Banjarmasin.
Nanang mengatakan sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam pencarian. Tapi, proses pemindahan korban dari kapal penolong ke kapal lain terkendala gelombang yang cukup tinggi.
“Yang memang saat ini untuk proses transfer korban dari satu kapal ke kapal lainnya memang agak sulit, karena memang gelombang cukup tinggi,” jelasnya.
Tim SAR juga menemukan sejumlah life raft dan life jacket dalam kondisi kosong. Berdasarkan informasi penumpang, sedikitnya dua life raft ditemukan tanpa korban di dalamnya.
Untuk hari pertama dan kedua, pencarian difokuskan di permukaan laut karena mempertimbangkan peluang korban bertahan. Menurut Nanang, korban yang berada di permukaan dengan menggunakan life jacket diperkirakan masih memiliki peluang bertahan sekitar dua kali 24 jam. Sementara korban yang menggunakan life raft atau perahu karet dapat bertahan lebih lama.
Basarnas juga terus menyebarkan informasi kepada kapal-kapal yang melintas dan berkoordinasi dengan SROP, KSOP Tanjung Perak, wilayah Banjarmasin hingga Jepara untuk memperluas pencarian korban. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

