Risiko kerusakan juga tidak hanya berasal dari sifat abrasif abu. Kandungan kimia tertentu di dalam abu vulkanik dapat meningkatkan potensi noda dan korosi ketika bercampur dengan air atau kelembapan.
“Selain risiko mekanis tersebut, pada permukaan abu juga dapat terdapat senyawa sulfat dan klorida yang ketika bercampur dengan air atau kelembapan dan dibiarkan mengendap dapat meningkatkan risiko noda dan korosi,” ujar Yannes.
Menurutnya, terdapat dua persoalan utama yang perlu diperhatikan ketika kendaraan terpapar abu vulkanik. Dalam kondisi kering, abu berpotensi menggores permukaan akibat gesekan.
Sementara jika terkena kelembapan dan dibiarkan terlalu lama, abu dapat meningkatkan risiko kerusakan secara kimiawi.
“Persoalannya ada dua, dalam kondisi kering abu dapat menggores karena gesekan, sedangkan dalam kondisi lembap dan dibiarkan terlalu lama dapat meningkatkan risiko kerusakan kimiawi,” katanya.










