Abu vulkanik yang menyelimuti kendaraan setelah erupsi gunung berapi tidak boleh diperlakukan seperti debu biasa.
Jika dibersihkan dengan cara yang keliru, partikel abu justru dapat menggores cat dan kaca hingga meningkatkan risiko korosi.
Agus Purwadi Ahli otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu pada umumnya.
Partikelnya cenderung lebih kasar dan tajam sehingga dapat bersifat abrasif ketika bergesekan dengan permukaan kendaraan.
“Butirannya sering lebih tajam dan kasar, sehingga saat bergesekan dengan permukaan mobil efeknya bisa seperti amplas halus,” kata Agus pada Senin (7/9/2026).
Menurut Agus, dampak abu vulkanik tidak hanya mengancam bagian eksterior kendaraan. Partikel abu juga berpotensi masuk ke sejumlah komponen dan celah kendaraan.
Dilansir dari Antara, abu tersebut dapat menyumbat intake udara, menempel pada wiper, masuk ke celah bodi, hingga mempercepat keausan pada komponen yang bergerak.
Yannes Martinus Pasaribu pakar otomotif ITB menambahkan, abu vulkanik dapat mengandung partikel keras dan tajam yang memiliki sifat abrasif.
Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya tidak langsung mengelap permukaan mobil yang tertutup abu dalam kondisi kering.
Gesekan antara kain, abu, dan permukaan kendaraan dapat menimbulkan baret halus, terutama pada cat dan kaca.
Risiko kerusakan juga tidak hanya berasal dari sifat abrasif abu. Kandungan kimia tertentu di dalam abu vulkanik dapat meningkatkan potensi noda dan korosi ketika bercampur dengan air atau kelembapan.
“Selain risiko mekanis tersebut, pada permukaan abu juga dapat terdapat senyawa sulfat dan klorida yang ketika bercampur dengan air atau kelembapan dan dibiarkan mengendap dapat meningkatkan risiko noda dan korosi,” ujar Yannes.
Menurutnya, terdapat dua persoalan utama yang perlu diperhatikan ketika kendaraan terpapar abu vulkanik. Dalam kondisi kering, abu berpotensi menggores permukaan akibat gesekan.
Sementara jika terkena kelembapan dan dibiarkan terlalu lama, abu dapat meningkatkan risiko kerusakan secara kimiawi.
“Persoalannya ada dua, dalam kondisi kering abu dapat menggores karena gesekan, sedangkan dalam kondisi lembap dan dibiarkan terlalu lama dapat meningkatkan risiko kerusakan kimiawi,” katanya.
Partikel abu yang sangat halus juga membuatnya mudah masuk ke berbagai bagian kendaraan, termasuk sela-sela karet, filter udara, radiator, dan celah komponen lainnya.
“Partikelnya yang sangat halus juga membuat abu mudah masuk ke sela karet, filter udara, radiator, dan berbagai celah kendaraan. Itu sebabnya abu vulkanik jangan diperlakukan seperti debu biasa, yang langsung dilap,” ujar Yannes.
Ia mengingatkan, abu vulkanik yang masuk dan mengendap di bagian kendaraan dapat memicu masalah apabila tidak segera ditangani dengan metode pembersihan yang tepat. (ant/saf/ipg)










