Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menyegel Gedung Rektorat Kampus A Yani, Surabaya, dalam aksi demonstrasi tolak Akhmad Muzakki jabat rektor dua periode, pada Rabu (16/9/2026).
Mahasiswa UINSA menyegel pintu bagian barat dan utara gedung rektorat setelah Akhmad Muzakki tidak kunjung menemui massa aksi.
Fadlurrakhman Fazle Purwardana Wakil Presiden Dewan Eksekutif (DEMA) UINSA mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan mahasiswa terhadap kebijakan dan kepemimpinan Muzakki selama periode pertama menjabat rektor.
“Jadi aksi ini sebenarnya adalah kemuakan dan kekecewaan yang ditumpuk, tumpuk, tumpuk, terus meledak,” ujarnya.

Dalam aksi yang tersebut, mahasiswa UINSA membawa tuntutan 1+7 yang berisi sejumlah desakan.
Tuntutan utama meminta Akhmad Muzakki dicopot secara tidak hormat atau mundur secara pribadi dari jabatan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.
Sementara tujuh tuntutan lainnya, pertama, mendesak pimpinan UINSA memberikan pernyataan publik terkait Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang baru terbentuk pada 2025.
Mahasiswa menilai selama tiga tahun UINSA tidak menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan menyebut hal itu mengindikasikan adanya dugaan korupsi.
Kedua, mahasiswa menuntut pengusutan tuntas kasus Kopertais yang menurut mereka melibatkan Akhmad Muzakki Rektor UINSA sebagai tersangka.
Ketiga, mahasiswa meminta adanya klarifikasi sekaligus kepastian tenggat waktu penyelesaian terkait keterlambatan pembagian buku, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan almamater mahasiswa baru.
Keempat, menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak hingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
Kelima, mahasiswa mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang menurutnya tidak mendukung kebutuhan nonakademik mahasiswa.
Keenam, mahasiswa menuntut pertanggungjawaban terkait kebijakan penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru yang mereka nilai tidak berpihak kepada mahasiswa dari kelompok menengah ke bawah.
Ketujuh, mahasiswa juga meminta tidak ada mekanisme peminjaman tempat di lingkungan kampus yang dipersulit lagi.
“Kita mahasiswa atau kita ini konsumen yang kemudian dikomersilkan? Kayak seakan-akan ini bukan rumah kita, kayak ini bukan tempat kita untuk mencari ilmu,” katanya.
Da mengatakan, mahasiswa terus membuka ruang dialog apabila pihak rektorat bersedia menemui dan mendengarkan tuntutan mahasiswa.
Pihaknya menjamin aksi penolakan tidak berhenti pada demonstrasi hari ini, tapi akan mmggelar aksi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons.
“Kalaupun memang perlu diatensi sampai Menag datang ke Surabaya, kami terbuka. Kami siap membuka diskusi publik, mendatangkan mereka berdua,” pungkasnya.(ris/kir/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

