“Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati,” ucapnya.
Penderitaan bertambah ketika mesin produksi air tawar rusak. Sempat berapa kali ganti mesin motor. “Tapi Alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan, Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala),” ujarnya.
Ashari menyampaikan kepada wartawan di rumahnya Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Sulsel, peristiwa yang membuatnya sedih yakni saat krunya meninggal dan semasa penyanderaan tidak pernah berkabar dengan keluarganya.
Meski demikian, perompak hanya memberikan panggilan video kepadanya guna dikirim ke Indonesia dan negara lainnya, serta memberi kabar kepada keluarganya bahwa masih hidup, sedangkan kru lainnya tidak mendapatkan kesempatan berkabar sedikitpun.
Semasa putusasa dalam penyanderaan, ia tetap memberikan semangat hidup kepada krunya agar tetap tenang. Semangat ini membuat seluruh kru berjumlah 17 orang itu terus bertahan.
NOW ON AIR SSFM 100

