Kondisi itu membuat vegetasi dan lahan semakin mudah terbakar. BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan segera berkoordinasi dengan BPBD atau instansi terkait jika menemukan titik api. Masyarakat juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di semak atau lahan kering.
Selain meningkatkan risiko kebakaran, banyaknya titik panas mulai berdampak pada kondisi udara di Nabire.
“Kalau kita lihat secara visual, kondisi saat ini kualitas udaranya sudah sangat menurun. Dengan adanya titik panas, ini menjadi sumber asap di Nabire,” ujarnya.
BMKG saat ini belum memiliki stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) di Papua Tengah untuk mengukur kualitas udara secara langsung.
Husain menjelaskan partikel asap dan debu bisa bertahan di atmosfer selama belum terjadi hujan. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

NOW ON AIR SSFM 100

