Senin, 31 Agustus 2026

BNPB Catat 7.377 Titik Panas Karhutla di Kalimantan Barat, Asap Masih Pekat

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Asap putih akibat kebakaran menyelimuti hutan di Kalimantan. Foto: BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Barat yang mengalami peningkatan paling signifikan pada Senin (31/8/2026).

Berton SP Panjaitan Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, peningkatan titik panas terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Namun, tren di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan relatif menurun.

“Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah relatif menurun,” ujar Berton di Jakarta, Senin.

Data BNPB menunjukkan Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi sekaligus mengalami lonjakan terbesar. Terdapat 7.377 titik panas atau meningkat 3.553 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Di wilayah tersebut juga terdeteksi 104 fire spot, meningkat 88 titik. Kondisi asap menyebabkan jarak pandang turun hingga kurang dari 1 kilometer.

Sementara di Kalimantan Tengah terdapat 5.244 titik panas, turun 147 titik. Meski jumlah titik panas menurun, fire spot justru bertambah 16 menjadi 72 titik. Jarak pandang di wilayah ini juga kurang dari 1 kilometer.

Kalimantan Selatan mencatat 504 titik panas atau turun 405 titik. Fire spot mencapai 55 titik, naik tiga titik, dengan jarak pandang kurang dari 2 kilometer.

BNPB menyebut tingginya aktivitas titik panas beriringan dengan kondisi sebaran polutan di sejumlah wilayah Kalimantan.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran polutan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan masih diperkirakan relatif pekat pada Senin (31/8/2026) hingga Selasa (1/9/2026).

“Kita lihat di Kalimantan Barat, Tengah, maupun Selatan, relatif sangat pekat. Ini menandakan bahwa jumlah asap sangat tebal di daerah-daerah tersebut,” kata Berton dilansir dari Antara.

Selain Kalimantan, sebaran polutan juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatera, terutama Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Sebaliknya, intensitas sebaran polutan di Papua dan Jawa diperkirakan cenderung menurun.

Di Sumatera, tren titik panas secara umum menurun. Namun, Sumatera Selatan justru mengalami kenaikan. BNPB mencatat 1.013 titik panas di provinsi tersebut, bertambah 209 titik.

Jumlah fire spot di Sumatera Selatan tercatat 11 titik atau turun tujuh titik. Jarak pandang berada di bawah 5 kilometer.

Di Riau, terdapat 62 titik panas atau turun 202 titik, dengan 12 fire spot atau turun dua titik. Jarak pandang berkisar 4-5 kilometer.

Sementara Jambi mencatat 49 titik panas atau turun 86 titik. Fire spot terpantau empat titik, dengan jarak pandang sekitar 6-7 kilometer.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya memantau perkembangan karhutla, tetapi juga memperhatikan kualitas udara di wilayah masing-masing.

Berton mengatakan, kondisi kualitas udara dapat dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang disediakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Layanan tersebut dapat digunakan masyarakat untuk mengetahui kondisi udara hingga tingkat kabupaten/kota.

“Masyarakat dapat mengakses, sehingga nanti tindakan-tindakan untuk mencegah bila kualitas udara tersebut sudah berbahaya ataupun tidak sehat dapat dilakukan dengan baik,” ujarnya. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Senin, 31 Agustus 2026
28o
Kurs