Makanya, lembaga vokasi di Jawa Timur perlu memastikan para peserta memiliki kompetensi sesuai standar yang dipersyaratkan negara tujuan seperti Jepang, Korea Selatan, Turki hingga Jerman.
“Di luar negeri saat ini posisinya sedang aging population. Orang-orang sudah berumur, kemudian pabriknya tetap harus bergerak, rumah sakitnya tetap harus beroperasi, restoran-restoran harus ada sentuhan manusianya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Seto menjelaskan peserta yang telah menyelesaikan pelatihan tidak otomatis langsung berangkat ke luar negeri. Mereka harus mengikuti proses job matching dengan perusahaan dari negara tujuan.
Dia menjamin pihak BP3MI Jatim tetap memberikan pendampingan supaya lulusan pelatihan tetap memiliki akses terhadap informasi lowongan dan proses penempatan apabila belum berhasil dalam job matching pertama.
Tahun ini, Pemerintah menargetkan program SMK Go Global dapat memberangkatkan 40.000 pekerja migran secara nasional. Sedangkan Jatim mendapat target 6.880 orang.
“Nah, ini. Jawa Timur kita dapat target 6.880. Jadi tahun ini seluruh Indonesia itu 40.000, Kalau tahun depan rencananya 140.000,” pungkasnya.(wld/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

