Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya meluruskan informasi mengenai patahan atau sesar di wilayah Surabaya yang belakangan ramai beredar di media sosial karena disebut berpotensi menyebabkan gempa dalam waktu dekat.
Informasi itu sebelumnya ramai, setelah sebuah video di media sosial menyebut adanya sesar aktif Surabaya-Madura yang membentang sekitar 90 kilometer dari Bangkalan, melintasi Surabaya hingga Sidoarjo.
Dalam video itu, sejumlah kawasan di Surabaya disebut berada di jalur patahan tersebut, mulai Kenjeran, Karangasem, Dharmawangsa, Jalan Nias, WR Supratman, Diponegoro, Surabaya Barat hingga Sumur Welut.
Terkait hal ini, Yanu Mardianto Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya mengatakan, pihaknya langsung melakukan konfirmasi kepada kementerian terkait untuk memastikan dasar data yang digunakan dalam informasi tersebut.
Hasil konfirmasi itu, BPBD Surabaya menemukan adanya perbedaan informasi mengenai jumlah patahan antara data Kementerian ESDM dengan Pusat Gempa Nasional Kementerian PU.
“Jadi, ya memang setelah kami konfirmasi dengan Kementerian ESDM yang mengeluarkan data itu, ternyata memang kalau dari mereka punya tiga patahan di wilayah Surabaya. Tapi ketika disandingkan dengan data Kementerian PU di Pusat Gempa Nasional, itu ternyata enggak match. Kalau di Kementerian ESDM itu ada tiga patahan, sedangkan di Kementerian PU di Pusat Gempa Nasional itu ada dua patahan,” jelasnya saat on air di program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Setelah dilakukan konfirmasi ulang, Yanu menyebut perbedaan tersebut berkaitan dengan metode dan skala pemetaan yang digunakan.
“Ketika kami konfirmasi ulang kepada Kementerian ESDM, ternyata data yang dipakai metodenya berbeda. Sehingga kalau di skalanya Pusat Gempa Nasional punya Kementerian PU itu skalanya 1:100.000, sedangkan dari Kementerian ESDM itu 1:1.000.000,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengartikan informasi mengenai keberadaan patahan sebagai kepastian bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Apalagi, kata Yanu, pihak yang mengunggah video tersebut juga sudah meminta maaf karena dianggap menyebabkan kepanikan. “Setelah itu ada permintaan maaf kayaknya,” ucapnya.
Yanu menegaskan, secara geologis potensi gempa memang ada. Namun hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan gempa akan terjadi.
“Potensi itu selalu ada. Cuma pertanyaannya, potensi ini hanya sekadar potensi atau potensi itu nanti jadi kejadian. Itu yang belum. Sampai sekarang pun belum ada alat yang bisa meramalkan kapan terjadinya,” katanya.
Hal serupa sebelumnya juga disampaikan BMKG. Masyarakat diminta menjadikan kajian kegempaan sebagai dasar meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sebagai sumber kepanikan, karena waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi.
Di sisi lain, BPBD Surabaya lebih menekankan upaya mitigasi sebelum bencana terjadi. Upaya tersebut meliputi sosialisasi mitigasi, kesiapan bangunan menghadapi bencana, penyiapan jalur evakuasi serta titik kumpul.
“Yang pertama itu terkait dengan sosialisasi tentang mitigasi bencananya, mitigasi terhadap bangunan gedungnya, dan juga mitigasi terkait dengan jalur evakuasi dan titik kumpulnya ketika terjadi bencana,” ujarnya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

