Kini, sebanyak 53 remaja itu masih menjalani pengobatan mendapatkan terapi antiretroviral atau ARV serta pendampingan dari Dinkes Sidoarjo. Terapi tersebut bertujuan menekan jumlah virus dalam tubuh, menjaga sistem kekebalan, dan mengurangi risiko penularan.
“Meski dia tidak berisiko untuk menularkan, tetap dia harus minum ARV-nya. Jadi jangan sampai kondisi sudah merasa enak tidak melanjutkan. Jadi saran kami adalah
tetap berobat rutin sesuai dengan yang ditentukan, baik dosisnya maupun waktunya,” ucapnya.
Adapun total kasus HIV/AIDS di Sidoarjo secara kumulatif sejak 2001 hingga pertengahan 2026 mencapai 7.230 kasus HIV/AIDS. Dinkes Sidoarjo pun memasifkan skrining HIV dengan memperluas pemeriksaan ke sejumlah lokasi yang dinilai memiliki risiko penularan tinggi.
Dinkes juga akan memperluas sosialisasi pencegahan HIV dengan melibatkan puskesmas, sekolah, dan perusahaan. Edukasi difokuskan pada kesehatan reproduksi, pencegahan hubungan seksual berisiko, serta bahaya penggunaan jarum suntik secara bergantian.
Masyarakat juga diminta tidak memberikan stigma atau mendiskriminasi orang dengan HIV/AIDS. Virus HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk.
“Penularan virus HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau dari ibu positif HIV ke bayi selama
kehamilan dan menyusui,” jelasnya. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

