Melalui informasi tersebut, masyarakat juga dapat mengamati pergerakan angin dan potensi persebaran polutan dari wilayah lain. Namun, hasil dari berbagai platform perlu dipahami sesuai metode pengukuran dan cakupan datanya.
“Jadi udara kita itu atmosfer kita itu kan dinamis sekali. Mungkin teman-teman akan kaget kalau saya kasih tahu bahwa kualitas udara itu dinihari itu buruk. Lebih buruk daripada malam hari,” kata Anjarwati.
Ia menjelaskan, pada dini hari, kondisi atmosfer tertentu dapat membuat polutan lebih sulit terdispersi sehingga terkumpul di dekat permukaan tanah. Pada pagi hari, peningkatan aktivitas transportasi dan kegiatan masyarakat dapat menambah emisi pencemar udara.
Menurutnya, periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB perlu mendapat perhatian karena konsentrasi pencemar berpotensi meningkat. Karena itu, udara pagi yang terasa sejuk belum tentu menunjukkan kualitas udara yang bersih.
Selain upaya masyarakat, Anjarwati menekankan pentingnya pengendalian pencemaran melalui sinergi pemerintah, pelaku usaha, media, dan masyarakat. Pemerintah, kata dia, memiliki instrumen regulasi untuk memastikan kegiatan usaha memperhatikan dampak lingkungan sebelum beroperasi.
“Setiap kegiatan usaha yang mau dibuka di Jawa Timur ataupun di seluruh Indonesia itu tidak bisa serta-merta berdiri saja,” ujarnya. (saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

